GLAPANGUMREGAH Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Sholawat serta salam kami haturkan kepada Nabi Muhammad SAW. Semoga kita termasuk umat yang kelak mendapat syafaatnya. Kuliah Kerja Nyata Dari Rumah (KKN-DR) ke 75 ini merupakan
Spiritualfather atau bapak rohani adalah istilah yang sering digunakan untuk pendidik. Pendidik adalah orang yang memberikan ilmu, pembinaan akhlaq m Pendidik adalah Bapak Rohani . 13 Maret 2020 21:08 Diperbarui: 13 Maret 2020 21:04 2333 5 3 + Laporkan Konten. Laporkan Akun. Lihat foto
BapakSutrimo, S.E selaku kepala Kelurahan Cepoko menyambut baik dan berteima kasih atas sosialisasi yang diadakan oleh kelompok 48 KKN UIN Walisongo Semarang dan LPMK Kelurahan Cepoko, karena dengan adanya sosialisasi tersebut warga dapat mengerti peran dan tujuan dari LPMK dalam ekonomi Kelurahan khususnya Kelurahan Cepoko.
PDF| The attachment of spiritualism to pesantren is nothing new in the world of pesantren but the phenomenon of labeling of "spiritual pesantren" by | Find, read and cite all the research
KomunikasiUIN Walisongo Semarang. Penulis menyadari, bahwa skripsi ini tidak dapat terselesaikan secara baik tanpa ada bantuan dari semua pihak yang dengan suka rela dan penuh rasa ikhlas. Oleh karena itu penulis secara khusus menyampaikan ucapan terimakasih kepada: 1. Bapak Dr. Ilyas Supena, M.Ag selaku Dekan Fakultas
OkOj. Cilacap - Peran walisongo dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa tercatat dalam tinta emas sejarah. Banyak literatur-literatur menerangkan perihal pengaruh penyebaran Islam di tanah Jawa pada abad XV dan XVI. Salman Rushdie Ditikam, Ini Jejak Kontroversial Penulis Ayat-Ayat Setan Erep-Erep atau Ketindihan Saat Tidur, Benarkah karena Gangguan Makhluk Halus? Pimpinan PKI DN Aidit, Benarkah Habib atau Keturunan Rasulullah Marga Al Aidid? Wali songo yang berarti sembilan wali ini semuanya oleh masyarakat jawa dijuluki Sunan atau Suhusunan. Kata Sunan atau Susuhunan berasal dari kata suhun-kasuhun-sinuhun berarti yang dijunjung tinggi/dijunjung di atas kepala juga bermakna paduka yang mulia. Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, gelar Sunan untuk Walisanga disebabkan para wali itu dianggap memiliki karamah atau kemampuan-kemampuan di luar kelaziman. Berikut adalah penjelasan mengenai biografi singkat walisongo dalam penyebaran Islam di tanah Jawa dan Indonesia. Saksikan Video Pilihan IniKisah Perjuangan Ibu 7 Tahun Dampingi Anaknya yang Difabel Menggapai Cita-CitaSunan Gresik-Sunan BonangSunan Gresik Dok. Maharani1. Syaikh Maulana Malik Ibrahim w. 882 H/ 1419 M Ada perbedaan pendapat terkait asal usul Syaikh Maulana Malik Ibrahim, ada pendapat berasal dari Turki dan ada pendapat lain menyatakan berasal dari Kashan sebuah tempat di Persia Iran sebagaimana tercatat pada prasasti makamnya. Syaikh Maulana Malik Ibrahim adalah seorang ahli tata negara yang menjadi penasehat raja, guru para pangeran dan juga dermawan terhadap fakir miskin. Menurut Babad ing Gresik beliau datang bersama kawan-kawan dekatnya dan berlabuh di Gresik pada tahun 1293/1371 M. Syaikh Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan Ali Zainal Abidin cicit Nabi Muhammad SAW. Syaikh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik bermukim di Gresik untuk menyiarkan ajaran Islam hingga akhir hayatnya pada tanggal 12 Rabiul awwal 822 H, bertepatan dengan 8 April 1419 M dan di makamkan di desa Gapura kota Gresik. Makamnya banyak diziarahi masyarakat hingga sekarang. Sunan Gresik dianggap sebagai penyiar Islam pertama di tanah Jawa, sehingga dianggap sebagai Ayah dari Walisanga. 2. Sunan Ampel atau Raden Rahmat w. 1406 M Raden Rahmat adalah putra cucu Raja Champa, ayahnya bernama Ibrahim As-Samarkandi yang menikah dengan Puteri Raja Champa yang bernama Dewi Candra Wulan. Raden Rahmat ke tanah Jawa langsung ke Majapahit, karena bibinya Dewi Dwara Wati diperistri Raja Brawijaya, dan istri yang paling disukainya. Raden Rahmat berhenti di Tuban dan di tempat itu beliau berkenalan dengan dua tokoh masyarakat yaitu Ki Wiryo Sarojo dan Ki Bang Kuning, yang kemudian masuk Islam keduanya beserta keluarganya. Dengan masuk Islamnya Ki Wiryo Sarojo dan Ki Bang Kuning, usaha Sunan Ampel semakin mudah dalam mendekati masyarakat dan melakukan dakwah Islam, sedikit demi sedikit mengajarkan Ketauhidan dan Ibadah. Sunan Ampel wafat pada tahun 1406M. Beliau dimakamkan di Kompleks Masjid Ampel, Surabaya. Sampai sekarang makam beliau banyak dikunjungi peziarah dari berbagai derah diseluruh pelosok Indonesia. 3. Sunan Bonang atau Makhdum Ibrahim M Raden Maulana Makhdum Ibrahim adalah putra Sunan Ampel dari istri yang bernama Dewi Candrawati. Sunan Bonang dikenal sebagai ahli Ilmu Kalam dan Ilmu Tauhid. Maulana Makhdum Ibrahim banyak belajar di Pasai, kemudian sekembalinya dari Pasai, Maulana Makhdum Ibrahim mendirikan pesantren di daerah Tuban. Santri yang belajar pada pesantren Maulana Makhdum Ibrahim, berasal dari penjuru daerah di tanah air. Dalam menjalankan kegiatan dakwahnya Maulana Makhdum Ibrahim Sunan Bonang mempunyai keunikan dengan cara mengubah nama-nama dewa dengan nama-nama malaikat sebagaimana yang dikenal dalam Islam. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya persuasif terhadap penganut ajaran Hindu dan Budha yang telah lama dipeluk sebelumnya. Sunan Bonang meninggal pada tahun 1525 dan dimakamkan di Tuban, daerah pesisir utara Jawa yang menjadi basis perjuangan Kalijaga - Sunan DrajatSunan Kalijaga Dok. Maharani4. Sunan Kalijaga atau Raden Syahid w. abad 15 Sunan Kalijaga mempunyai nama kecil Raden Sahid, beliau juga dijuluki Syekh Malaya. Ayahnya bernama Raden Sahur Tumenggung Wilwatikta keturunan Ranggalawe yang sudah Islam dan menjadi bupati Tuban, sedangkan ibunya bernama Dewi Nawangrum. Sunan Kalijaga merupakan salah satu wali yang asli orang Jawa. Sebutan Kalijaga menurut sebagian riwayat berasal dari rangkaian bahasa Arab qadi zaka yang artinya pelaksana’ dan membersihkan’. Menurut pendapat masyarakat Jawa memberikan arti kata qadizaka dengan Kalijaga, yang berarti pemimpin atau pelaksana yang menegakkan kesucian atau kebersihan. Sunan Kalijaga meninggal pada pertengahan abad XV dan makamnya ada di desa Kadilangu, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. 5. Sunan Giri atau Raden Ainul Yaqin w. Abad 15 Raden Ainul Yaqin Raden Paku adalah putra dari Syekh Maulana Ishaq murid Sunan Ampel. Raden Ainul Yaqin dan dikenal dengan sebutan Sunan Giri. Sunan Giri merupakan saudara ipar dari Raden Fatah, di karenakan istri mereka bersaudara. Raden Ainul Yaqin kecil di bawah asuhan seorang wanita kaya raya yang bernama Nyai Gede Maloka atau Nyai Ageng Tandes. Setelah menginjak dewasa, Raden Ainul Yaqin menimba ilmu di Pesantren Ampel Denta Surabaya milik Sunan Ampel. Di sini ia bertemu dan berteman baik dengan putra Sunan Ampel yang bernama Maulana Makdum Ibrahim. Ketika hendak melaksanakan ibadah haji bersama Sunan Bonang, keduanya menyempatkan singgah di Pasai untuk memperdalam ilmu keimanan dan tasawuf. Pada sebuah kisah diceritakan bahwa Raden Paku bisa mencapai tingkatan ilmu laduni. Dengan prestasi yang dicapainya inilah, Raden Paku juga terkenal dengan panggilan Raden Ainul Yaqin. Sunan Giri meninggal sekitar awal abad ke-16, makam beliau ada di Bukit Giri, Gresik. 6. Sunan Drajad atau Raden Qasim w. 1522 M Sunan Drajad memiliki nama asli Raden Qasim. Disebut Sunan Drajad karena beliau berdakwah di daerah Drajad kecamatan Paciran Lamongan. Masyarakat juga menyebutnya sebagai Sunan Sedayu, Raden Syarifudin, Maulana Hasyim, Sunan Mayang Madu. Raden Qasim adalah putra Sunan Ampel dari istri kedua yang bernama Dewi Candrawati. Raden Qasim mempunyai enam saudara seayah-seibu, diantaranya Siti Syareat istri R. Usman Haji, Siti Mutma’innah istri R. Muhsin, Siti Sofiah istri R. Ahmad, Sunan Malaka dan Raden Maulana Makdum Ibrahim Sunan Bonang. Di samping itu, ia mempunyai dua orang saudara seayah lain ibu, yaitu Dewi Murtasiyah istri R. Fatah dan Dewi Murtasimah istri Sunan Giri. Sedangkan istri Sunan Drajad, yaitu Dewi Shofiyah putri Sunan Gunung Kudus - Sunan Gunung JatiPeziarah saat mendatangi makam Sunan Kudus, Kauman, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Rabu 30/3/2022. Jelang bulan suci Ramadhan, ribuan umat muslim dari berbagai daerah di Indonesia mulai memadati makam Sunan Kudus untuk berziarah sebagai tradisi sebelum puasa. S. Nugroho7. Sunan Kudus atau Raden Ja’far Shadiq M Sunan Kudus biasa juga dikenal Ja’far Sadiq atau Raden Undung, beliau juga dijuluki Raden Amir Haji sebab ia pernah bertindak sebagai pimpinan Jama’ah Haji Amir. Dikenal sebagai seorang pujangga cerdas yang luas dan mendalam keilmuannya. Ja’far Sadiq Sunan Kudus merupakan putra Raden Usman Haji yang menyebarkan agama Islam di daerah Jipang Panolan, Blora, Jawa Tengah. Dalam silsilah, Sunan Kudus masih keturunan Nabi Muhammad Saw. Tercatat detail dalam silsilah Ja’far Sadiq bin R. Usman Haji bin RajaPendeta bin Ibrahim as-Samarkandi bin Maulana Muhammad Jumadal Kubra bin Zaini al-Husein bin Zaini al-Kubra bin Zainul Alim bin Zainul Abidin binSayid Husein bin Ali ra. Sunan Kudus juga dikenal dengan julukan wali al-ilmi, karena sangat menguasai ilmu-ilmu agama, terutama tafsir, fikih, usul fikih, tauhid, hadits, serta logika. Sunan Kudus juga dipercaya sebagai panglima perang Kesultanan Demak. Ia mendapat kepercayaan untuk mengendalikan pemerintahan di daerah Kudus, sehingga ia menjadi pemimpin pemerintahan Bupati sekaligus pemimpin agama. Sunan Kudus meninggal di Kudus pada tahun 1550, makamnya berada di dalam kompleks Masjid Menara Kudus. 8. Sunan Muria atau Raden Umar Said w. abad 15 Sunan Muria adalah putera Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama aslinya adalah Raden Umar Said, semasa kecil ia biasa dipanggil Raden Prawoto. Dikenal sebagai Sunan Muria karena pusat dakwah dan bermukim beliau di Bukit Muria. Dalam dakwah, beliau seperti ayahnya. Ibarat mengambil ikan “tidak sampai keruh airnya”. Dalam sejarah tidak diketahui secara persis tahun meninggalnya dan menurut perkiraan, Sunan Muria meninggal pada abad ke-16 dan dimakamkan di Bukit Muria, Kudus. 9. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah w. 1570 M Dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati, nama asli beliau adalah Syarif Hidayatullah. Beliau adalah salah seorang dari Walisanga yang banyak memberikan kontribusi dalam menyebarkan agama Islam di pulau Jawa, khususnya di daerah Jawa Barat. Syarif Hidayatullah dikenal sebagai pendiri Kesultanan Cirebon dan Banten. Dalam bukunya Sadjarah Banten, Hoesein Djajadiningrat menyatakan kedua nama yaitu Fatahillah dan Nurullah merupakan nama satu orang. Nama aslinya adalah Nurullah, kemudian dikenal juga dengan nama Syekh Ibnu Maulana. Nurullah yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati berasal dari Pasai. Penguasaan Portugis atas Malaka pada 1511 dan akhirnya Pasai pada tahun 1521 membuat Nurullah tidak tinggal lama di Pasai. Beliau segera berangkat ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji. Setelah kembali dari Tanah Suci pada tahun 1524, lalu langsung menuju Demak dan beristri adik Sultan Trenggana. Atas dukungan dari Sultan Trenggana, beliau berangkatlah ke Banten untuk mendirikan sebuah pemukiman muslim. Kemudian dari Banten, Nurullah melebarkan pengaruhnya ke daerah Sunda Kelapa. Di sini, pada tahun 1526 dia berhasil mengusir bangsa Portugis yang hendak mengadakan kerja sama dengan Raja Padjajaran. Berkat kemenangannya ini, Nurullah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Di Banten, beliau meninggalkan putranya yang bernama Hasanuddin untuk memimpin Banten. Sunan Gunung Jati wafat di Cirebon pada tahun 1570 dan usianya diperkiran sekitar 80 tahun. Makamnya terdapat di kompleks pemakaman Wukir Sapta Pangga di Gunung Jati, Desa Astana Cirebon, Jawa Barat. Sumber Buku Sejarah Kebudayaan Islam, MA Kelas XII karya M. Samsul Arifin, Khazim Mahrur* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
Maret 20, 2022 1237 pm 47 Menit Membaca Table of contents [Hide] [Show] Sunan AmpelPerjalanan Hidup Sunan AmpelSunan BonangPerjalanan Hidup Sunan BonangSunan DrajatPerjalanan Hidup Sunan DrajadSunan GiriPerjalanan Hidup Sunan GiriSunan Gunung JatiPerjalanan Hidup Sunan Gunung JatiSunan KalijagaPerjalanan Hidup Sunan KalijagaSunan KudusPerjalanan Hidup Sunan KudusSunan Maulana Malik IbrahimPerjalanan Hidup Maulana Malik IbrahimSunan MuriaPerjalanan Hidup Sunan Muria Walisongo –dalam bahasa Indonesia disebut Walisembilan– merupakan julukan untuk orang suci yang berjuang di tanah Nusantara pada abad ke-15 dan ke-16. Masyarakat Indonesia memberikan perhatian lebih pada tradisi nenek moyangnya. Dalam hal ini, ziarah kubur. saat ini, sudah rahasia umum bahwa beberapa kelompok tidak suka dengan membid’ahkan ziarah kubur sebagai langkah yang tidak islami. Bahkan, fatalnya lagi, kalau ziarah kubur dilarang dengan berbagai alasan maupun landasan yang digunakannya. Herannya, pelarangan tersebut mencatut nama institusi, agama dan tidak lengkap jika tidak dikasih ayat al Qur’an atau hadis Kanjeng nabi Muhammad SAW. Berikut biografi lengkap Walisongo beserta ajarannya Sunan Ampel Sunan Ampel Raden Rahmat, adalah putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada tahun 1401 M dan diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim, yakni daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya. Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya. Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Di antaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak 25 kilometer arah selatan kota Kudus hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V Raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M. Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun dan mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan abad ke-15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian diperintahkan untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura. Sunan Ampel menganut Fikih mazhab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” moh main, mioh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon. Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.” Perjalanan Hidup Sunan Ampel Sunan Ampel Raden Rahmat adalah salah satu anggota sembilan wali Walisongo, penyebar agama Islam di tanah Jawa. Sama seperti Sunan Maulana Malik Ibrahim, jasa beliau juga sangat besar dalam perkembangan agama Islam di tanah Jawa. Bahkan banyak kalangan yang berpendapat bahwa beliau merupakan bapak para wali. Sebab, dari tangannya lahir para pendakwah Islam kelas wahid di Jawa. Nama asli Sunan Ampel sendiri adalah Raden Rahmat. Sebutan Sunan merupakan gelar kewaliannya. Sedangkan Ampel atau Ampel Denta dinisbatkan kepada tempat tinggalnya, yaitu Ampel, sebuah daerah yang terletak di sebelah utara Kota Surabaya, Jawa Timur. Sunan Ampel lahir pada tahun 1401 M. di Champa. Para sejarawan kesulitan untuk menentukan Champa di sini. Sebab belum ada pernyataan tertulis maupun prasasti yang menunjukkan Champa di Malaka atau kerajaan Jawa. Namun,beberapa sejarawan berkeyakinan bahwa Champa adalah sebutan lain dari Jeumpa dalam bahasa Aceh. Oleh karena itu, Champa berada dalam wilayah kerajaan Aceh. Hamka berpendapat sama, ia menyatakan bahwa Champa itu bukan yang di Annam Indo Cina, sesuai Enscyclopaedia Van Nederlandsch Indie, tetapi di Aceh. Ayah Sunan Ampel adalah Sunan Maulana Malik Ibrahim Sunan Gresik, yaitu keturunan Syekh Jamalluddin Jumadil Kubra, seorang Ahlussunnah bermazhab Syafi’i. Syekh Jamalluddin merupakan ulama yang berasal dari Samarqand, Uzbekistan. Adapun ibunya bernama Dewi Chandrawulan, saudara kandung Putri Dwarawati Murdiningrum, ibu Raden Fatah, istri raja Majapahit Prabu Brawijaya V. Sunan Ampel memiliki dua istri, yaitu Dewi Karimah dan Dewi Chandrawati. Dengan istri pertamanya, Dewi Karimah, beliau dikaruniai dua orang anak, yaitu Dewi Murtasih yang menjadi istri Raden Fatah sultan pertama kerajaan Islam Demak Bintoro, dan Dewi Murtasimah yang menjadi permaisuri Raden Paku atau Sunan Giri. Dengan Istri keduanya, Dewi Chandrawati, Sunan Ampel memperoleh lima orang anak, yaitu Siti Syare’at, Siti Mutmainah, Siti Sofiah, Raden Maulana Makdum, Ibrahim atau Sunan Bonang, serta Syarifuddin atau Raden Kosim yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Drajad. Babad Diponengoro menceritakan bahwa Sunan Ampel memiliki pengaruh yang cukup kuat di istana Majapahit. Meski raja Majapahit menolak masuk Islam, namun Sunan Ampel diberi kebebasan mengajarkan agama Islam pada warga Majapahit, asal tanpa paksaan. Selama tinggal di Majapahit, beliau dinikahkan dengan Nyai Ageng Manila, putri Temanggung Arya Teja, Bupati Tuban. Sejak itu, gelar pangeran dan raden melekat di depan namanya. Beliau diperlakukan sebagai keluarga kraton Majapahit. Beliau pun semakin disegani masyarakat. Pada hari yang ditentukan, berangkatlah rombongan Raden Rahmat ke Ampel. Dari Trowulan, melewati Desa Krian, Wonokromo, berlanjut ke Desa Kembang Kuning. Di sepanjang perjalanan, Raden Rahmat berdakwah. Beliau membagi-bagikan kipas yang terbuat dari akar tumbuhan kepada penduduk. Mereka cukup mengambil kipas itu dengan mengucapkan syahadat. Dan seiring berjalannya waktu, pengikutnya pun bertambah banyak. Sebelum tiba di Ampel, beliau membangun langgar musallah sederhana di Kembang Kuning, delapan kilometer dari daerah Ampel. Langgar tersebut kemudian besar, megah, dan bertahan sampai sekarang, yang diberi nama Masjid Rahmat. Setibanya di Ampel, langkah pertama yang dilakukan Raden Rahmat ialah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah. Kemudian beliau membangun pesantren, mengikuti model Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Adapun format pesantrennya mirip dengan konsep biara yang sudah dikenal masyarakat Jawa. Raden Rahmat memang dikenal memiliki kepekaan adaptasi. Caranya menanamkan akidah syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Misalnya kata shalat diganti dengan sembahyang asalnya sembah dan hyang. Tempat ibadah tidak diberi nama musallah, melainkan langgar mirip kata sanggar. Penuntut ilmu disebut santari, yang berasal dari shasti yang berarti orang yang tahu buku suci agama Hindu. Siapa pun, bangsawan maupun rakyat jelata, bisa nyantri kepada Raden Rahmat. Meski bermadzhab Hanafi, namun beliau sangat toleran pada madzhab yang lain. Santrinya diberi kebebasan dalam bermadzhab. Dengan cara pandang netral itu, pendidikan di Ampel mendapatkan perhatian. Dari sinilah sebutan Sunan Ampel mulai masyhur. Beliau meninggal pada tahun 1481 di Demak, dan dimakamkan di Ampel, Surabaya. Adapun salah satu cara berdakwah Sunan Ampel adalah falsafah Moh Limo. Falsafah tersebut adalah Moh Main tidak mau berjudi. Moh Ngombe tidak mau mabuk karena minum minuman arak. Moh Maling tidak mau mencuri. Moh Madat tidak mau merokok atau menggunakan narkotika. Moh Madon tidak mau bermain dengan perempuan yang bukan istrinya. Sunan Bonang Sunan Bonang alias Maulana Makhdum Ibrahim adalah putera Sunan Ampel 1465 M – 1525 M, berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim yang mendirikan pesantren di tempat tinggalnya. Dia juga adalah salah seorang pendiri Kerajaan Demak. Nama kecilnya adalah Raden Makhdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha. Ia kemudian menetap di Bonang desa kecil di Lasem, Jawa Tengah sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit. Ia acapkali berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, pati, Madura, maupun Pulau Bawean. Di pulau inilah, pada tahun 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan bonang memiliki buku yang lebih merupakan wejangan mengenai hukum dan agama Islam, yang sering disebut sebagai “Buku Sunan Bonang”, diperkirakan berasal dari masa yang lebih awal daripada akhir abad ke-16. Buku Sunan Bonang adalah sebuah Primbon karena merupakan kumpulan dari penjelasan tentang berbagai masalah yang berbeda-beda Drewes, 2002. Ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang. Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat cinta’ isyq. Sangat mirip dengan kecenderungan Jalal Al-din Al-Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif makrifat dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al-yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara popular melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga. Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah “Suluk Wijil” yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr wafat pada 899. Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri. Sunan Bonang juga menggubah gamelah Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan member nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrument boning. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental alam malakut. Tembang “Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang. Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara naïf peniadaan dan isbah peneguhan. Perjalanan Hidup Sunan Bonang Nama lengkap Sunan Bonang adalah Raden Maulana Makdum Ibrahim. Beliau merupakan salah satu dari sembilan Walisongo yang menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa, khususnya di pesisir timur Pantai Utara, lebih tepatnya di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Bukti sejarah singgahnya Sunan Bonang di Rembang, yaitu adanya sejumlah peninggalan dan juga petilasan yang masih bisa dilihat karena tetap dijaga kelestariaannya. Salah satunya Masjid Sunan Bonang. Beliau merupakan putra dari pasangan Raden Rahmat Sunan Ampel dengan Ny. Ageng Manila Dewi Tjondrowati, putri R. Arya Tedja, salah satu tumenggung dari kerajaan Majapahit yang berada di daerah Tuban. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang, sesuai dengan nama marga Bong. Hal ini seperti nama ayahnya, Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel. Adapun tentang Sunan Bonang yang namanya di depannya tercantum kata-kata Maulana Makdum, mengingatkan kita kembali kepada cerita di dalam sejarah Melayu. Konon, dalam sejarah Melayu ada seorang cendekiawan Islam yang juga memakai gelar Makdum gelar yang lazim dipakai di India. Kata atau gelar Makdum ini merupakan sinonim dari kata Maula atau Malauy, gelar kepada orang besar agama berasal dari kata Khodama Yakhdamu dan infinitifnya masdarnya khidmat. Sedangkan maf’ul-nya dikatakan makhdum, yang berarti orang yang harus dihormati karena kedudukannya dalam agama atau pemerintahan Islam di waktu itu. Ada juga salam seorang tokoh yang mengepalai suatu departemen ketika terjadi pembentukan adat yang berdasarkan Islam, tatkala agama Islam memasuki lingkungan Minangkabau, juga berpangkat Makdum. Mengenai tahun kelahiran Sunan Bonang, menurut beberapa sumber, beliau lahir pada tahun 1465 M. Sejak kecil, beliau sudah diberi pelajaran agama Islam secara tekun dan disiplin oleh ayahnya. Dan, ini sudah bukan rahasia lagi bahwa latihan para wali lebih berat daripada orang pada umumnya. Beliau adalah calon wali terkemuka, maka Sunan Ampel mempersiapkan pendidikan sebaik mungkin sejak dini. Pada suatu hari disebutkan bahwa Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku Sunan Giri sewaktu masih remaja menuntut ilmu sampai ke tanah seberang, yaitu Negeri Pasai sekarang Aceh. Keduanya menambah ilmu pengetahuan mereka dengan berguru kepada ayah kandung Sunan Giri, yaitu Syekh Maulana Ishaq. Selain itu, mereka juga belajar kepada para ulama besar yang menetap di Negeri Pasai, seperti kepada para ulama tasawuf yang berasal dari Baghdad, Mesir, Arab, Persia sekarang Iran. Setelah menimba ilmu di Negeri Pasai, Raden Paku dan Raden Makdum Ibrahim pun kembali ke Pulau Jawa. Raden Paku pulang ke Gresik, di mana di sana beliau mendirikan pesantren di daerah Giri sehingga beliau terkenal dengan sebutan Sunan Giri. Sementara Raden Makdum Ibrahim sendiri diperintah oleh sang ayah Sunan Ampel untuk berdakwah di Tuban. Sunan Bonang sendiri sangat giat dan memiliki semangat yang tinggi dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, khususnya di Jawa Timur, terutama di Tuban dan sekitarnya. Beliau juga menyelenggarakan pendidikan agama Islam dan menempa calon-calon da’i serta mubaligh yang akan bertugas menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok Pulau Jawa. Adapun dalam berdakwah, ia sering mempergunakan kesenian tradisional untuk menarik simpati masyarakat, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut “bonang”. Bonang adalah sejenis kuningan yang bagian tengahnya lebih ditonjolkan. Apabila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak, maka timbul suara yang merdu di telinga penduduk setempat. Terlebih lagi ketika Raden Makdum Ibrahim sendiri yang membunyikan alat musik tersebut. Beliau adalah seorang wali yang mempunyai cita rasa seni yang tinggi. Jika beliau membunyikan alat itu, maka pengaruhnya sangat hebat bagi para pendengarnya. Karena kepandaianya itu, tidak heran jika penduduk yang ingin belajar membunyikan bonang, sekaligus melagukan berbagai tembang ciptaan beliau. Murid-murid Raden Makdum Ibrahim sangat banyak, baik yang berada di Tuban, Bawean, Jepara, Surabaya maupun Madura. Karena beliau sering mempergunakan bonang dalam berdakwah, kemudian masyarakat memberinya gelar Sunan Bonang. Adapun di antara tembang Raden Makdum Ibrahim yang terkenal, yaitu “Tamba ati iku lima ing wernane. kaping pisan maca qur an angen-angen sak maknane. Kaping pindho shalat wengi lakonono. Kaping telu wong kang saleh kancanana. kaping papat kudu wetheng ingkang luwe. Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe. Sopo wonge bisa ngelakoni. Insya Allah gusti Allah nyembadani” Adapun arti tembang tersebut adalah obat sakit jiwa hati itu ada lima jenisnya. Pertama, membaca al qur an direnungkan artinya. Kedua, mengerjakan shalat malam Sunnah Tahajjud. Ketiga, sering bersahabat dengan orang shalih berilmu. Keempat, harus sering berprihatin berpuasa. Kelima, sering berdzikir mengingat Allah di waktu malam. Dan sampai sekarang lagu ini sering dilantunkan para santri ketika hendak shalat jamaah. Setelah berhasil merebut simpati masyarakat, beliau tinggal menyiapkan ajaran Islam dalam berbagai tembang kepada mereka. Dan, seluruh tembang yang diajarkannya adalah tembang yang berisikan ajaran agama Islam. Dengan cara seperti itu, tanpa terasa penduduk sudah mempelajari agama Islam dengan senang hati alias bukan dengan paksaan. Konon, Sunan Bonang inilah yang menciptakan gending Dhurmo yang menghilangkan kepercayaan tentang adanya hari-hari sial menurut ajaran Hindu dan menghapus nama dewa-dewa sakti. Sebagai penggantinya, Sunan Bonang menanamkan pengertian dan kepercayaan tentang adanya para malaikat dan para nabi. Apa saja yang tidak bertentangan dengan ajaran dan kepercayaan Islam, oleh Sunan Bonang ditempuh sebagai jalan untuk mendekatkan rakyat kepada agama Islam. Sunan Bonang turut berperan dalam penyelesaian pembangunan Masjid Agung Demak. Ini merupakan kenyataan yang membuktikan dukungan Sunan Bonang terhadap kerajaan Islam pertama di Demak. Menurut makalah yang ditulis oleh Drs. Wiji Saksono yang berjudul Islam Menurut Wejangan Walisongo Berdasarkan Sumber Sejarah, mengetengahkan bahwa Sunan Bonang yang bergelar Prabu Hanyakrawarti dan berkuasa di dalam Sesuluking Ngelmi Ian Agami sama kedudukannya dengan seorang mufti besar yang memiliki kewenangan dalam memecahkan masalah-masalah keagamaan Islam. dalam hal ini, menurut beberapa pendapat para sejarawan, ajaran Sunan Bonang ini sedikit-banyak mewakili ajaran-ajaran ayahnya, Sunan Ampel, dan saudaranya, Sunan Drajad. Sebagian riwayat mengatakan bahwa Sunan Bonang tidak menikah sampai beliau wafat. Namun, dalam riwayat lain menyebutkan bahwa beliau menikah dengan Dewi Hirah, putri dari Raden Jaka Kandar, di mana dalam pernikahan tersebut beliau dikaruniai seorang putri cantik bernama Dewi Rukhil. Putri kesayangannya tersebut kemudian menikah dengan Ja’far Shodiq Sunan Kudus. Dari pernikahan Ja’far Shodiq dengan Dewi Rukhil binti Sunan Bonang lahirlah Khasan yang wafat di Karimunjawa dalam status jejaka. Tahun 1525 M, Raden Maulana Makdum Ibrahim meninggal dunia dalam usia kurang-lebih 60 tahun, dan dimakamkan di rumah kediaman beliau Ndalem di desa Bonang Lasem. Setengah riwayat menyebutkan bahwa makam beliau terletak di Tuban, ada pula yang mengatakan di Madura. Semua itu menunjukkan karomahnya Sunan Bonang yang mungkin terjadi bagi seseorang yang menjadi kekasih Allah Waliyyullah. Hal ini mempunyai hikmah bagi para pengikutnya. Sunan Drajat Sunan drajat Maulana Syarifudin, seorang da’i besar yang juga merupakan salah seorang pendiri kerajaan Demak, nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M. Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog, pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan. Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni Suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, diantaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’. Perjalanan Hidup Sunan Drajad Menurut sejarah, Sunan Drajad lahir pada tahun 1470 M. Meskipun tempat kelahiran Sunan Drajad masih menjadi perdebatan, namun banyak yang mengatakan bahwa orangtuanya berasal dari Surabaya. Orang tua beliau dari jalur ayah bernama Raden Rahmat yang terkenal dengan Sunan Ampel, salah satu anggota Walisongo yang memiliki wilayah dakwah di daerah Ampel Denta, Surabaya, Jawa Timur. Sementara dari pihak ibu bernama Nyai Ageng Gede Manila atau Candrawati, putri dari Arya Teja atau Wilwatikta, yang agaknya masih memerlukan kejelasan mengenai siapa sebenarnya kedua nama itu. Hanya saja, beberapa sumber lebih pada kecenderungan menyebutkan bahwa Nyai Ageng Gede Manila adalah putri Arya Teja IV, seorang adipati Tuban yang masih memiliki nasab dengan Ronggolawe. Namun, jika ditarik garis nasab ke atas lagi, maka antara Sunan Drajad dengan Walisongo yang lain, yakni Sunan Giri adalah sama-sama keturunan ke-24 Nabi Muhammad SAW. Hingga urutan yang ke-23, keduanya masih satu nasab. Hanya saja dibedakan oleh kedua orangtuanya, yakni ayah Sunan Giri bernama Maulana Ishak, sementara ayah Sunan Drajad bernama Raden Rahmat. Ketika masa kanak-kanak hingga remaja, Sunan Drajad banyak dibesarkan di lingkungan ayahnya sendiri di Surabaya. Bahkan, dapat dikatakan bahwa pengetahuan keagamaan banyak didapatkan dari sang ayah dan saudara tuanya sendiri, Raden Makdum Ibrahim. Pendidikan yang diperoleh dari ayah dan saudaranya tentu mulai dari tingkat dasar, yaitu mulai membaca al-Qur’an, berlanjut dengan pelajaran yang terkait dengan pelajaran mengenai syariat Islam. Menurut tradisi yang berkembang, ada kecenderungan seorang kiai akan menyuruh anaknya untuk mengaji atau belajar kepada kiai lain yang dipercaya memiliki ilmu lebih tinggi, baik itu dahulunya adalah kawan mengaji maupun mantan santrinya. Tradisi itu tampaknya juga berlaku pada diri Raden Qasim saat masih remaja. Seperti diketahui umum bahwa Sunan Ampel adalah guru semua wali, termasuk Syarif Hidayatullah yang merupakan santri Ampel Denta, Surabaya, yang setelah lulus memperoleh tugas mengembangkan agama Islam di Cirebon. Sunan Ampel kemudian menyuruh Raden Qasim untuk belajar ilmu agama kepada Syarif Hidayatullah yang kemudian terkenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati dengan wilayah dakwahnya di Cirebon. Konon, dari Sunan Gunung Jati inilah Sunan Drajad mendalami ilmu syariat, hakikat, dan makrifat. Bahkan, di Cirebon juga, Raden Qasim mendapat wejangan ilmu sejati bersama Pangeran Makdum, Pangeran Welang, dan Pangeran Aryadillah. Pangeran ini semuanya disebut Pangeran Palakaran karena derajat mereka belum sampai ke tingkat wali, baru sebatas menuju kepada tingkat wali, kecuali Raden Qasim yang telah mencapai Drajad wali setelah diberi ilmu sejati oleh Sunan Gunung Jati. Selama belajar di Cirebon, Raden Qasim lebih dikenal dengan sebutan Syekh Syarifuddin dan bergelar Sunan Drajad. Pangeran Drajad muncul Drajad-nya menjadi anggota Walisongo melalui musyawarah para wali di Balai Sidang Para Wali di kompleks Kraton Pakungwati setelah Syekh Siti Jenar dihukum pancung. Sunan Drajad sendiri memilih lokasi di wilayah pesisir Utara Jawa yang dianggap sesuai dengan persetujuan orangtuanya untuk mengembangkan ajaran Islam. Alasan lokasi itu juga mungkin diilhami oleh sebuah fakta bahwa pantai Utara Jawa merupakan tempat Islamisasi yang dilakukan oleh ulama lainnya. Pemilihan tempat tinggal itu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi sosial, politik, dan ekonomi pada zaman akhir Majapahit. Tempat-tempat tersebut, selain menjadi pusat kegiatan ekonomi, juga menjadi sentral perkembangan budaya Jawa, meliputi bidang arsitektur dan kesusastraan. Pada saat yang sama, kota pesisiran Jawa juga menjadi pusat kaum intelektual, terutama pada periode transisi, yaitu abad 15 sampai abad 16. Keberadaan Sunan Drajad sendiri di Drajad sebagai tokoh penyebar agama Islam diperkirakan mulai tahun 1487 sampai tahun 1522 sebagai angka tahun wafatnya. Hal itu bertetapan dengan kurun waktu ketika Jawa Timur sedang mengalami instabilitas politik dan keamanan. Dampaknya, kejahatan dan kriminalitas di daerah-daerah merajalela, termasuk di pedalaman pantai utara Jawa. Sumber-sumber sejarah tradisional memberitakan bahwa kehidupanrakyat waktu itu sangat buruk. Berita Cina juga menyebutkan bahwa PelabuhanTuban saat itu tidak lagi disinggahi oleh kapal-kapal dari negerinya karena alasan keamanan. Ironisnya, dalam kondisi semacam itu, boleh jadi ada juga segelintir orang yang tetap menikmati kehidupan makmur, terutama golongan elite, dalam hal ini penguasa lokal sebagai penerima upeti dari rakyat, para penarik upeti, dan para saudagar terutama yang berada di kota-kota besar atau pelabuhan. Nah, pada konteks zaman yang seperti inilah Sunan Drajad secara bijak kemudian memberikan wejangan yang ditujukan kepada semua pengikutnya, tidak terkecuali golongan ekonomi atas, untuk berbuar lebih dan bermanfaat bagi golongan miskin. Adapun Catur Piwulang yang diajarkan beliau sebagai berikut wenehono teken maring kang kalunyon lan wuto berilah tongkat kepada mereka yang menapaki jalan licin dan buta wenehono pangan marang kang kaliren berilah makan kepada mereka yang kelaparan wenehono sandang marang kang kawudan, berilah pakaian kepada mereka yang telanjang wenehono payung kang kodanan, berilah payung kepada mereka yang kehujanan Sunan Drajad terkenal dengan kearifan dan kedermawanannya. Beliau menurunkan kepada para pengikutnya kaidah tidak saling menyakiti, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Salah satu wejangannya adalah ”Bapang den simpangi, ana catur mungkur,” Jangan mendengarkan pembicaraan yang menjelek-jelekkan orang lain, apalagi melakukan perbuatan itu. Beliau memperkenalkan Islam melalui konsep dakwah bil-hikmah, dengan cara-cara bijak, tanpa memaksa. Dalam menyampaikan ajarannya, Sunan menempuh lima cara, yaitu Pertama, lewat pengajian secara langsung di masjid atau langgar. Kedua, melalui penyelenggaraan pendidikan di pesantren. Ketiga, memberi fatwa atau petuah dalam menyelesaikan suatu masalah. Keempat, melalui kesenian tradisional. Sunan Drajat kerap berdakwah lewat tembang pangkur dengan iringan gending. Terakhir, ia juga menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Dan, adapun pokok ajaran beliau adalah Catur Piwulang, sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Dalam beberapa naskah, Sunan Drajad disebut-sebut menikahi tiga perempuan. Setelah menikah dengan Kemuning ketika menetap di Desa Drajad, beliau mengawini Retnayu Condrosekar, putri Adipati Kediri, Raden Suryadilaga. Peristiwa itu diperkirakan terjadi pada 1465 M. Sedangkan menurut Babad Tjerbon, istri pertama Sunan Drajat adalah Dewi Sufiyah, putri Sunan Gunung Jati. Ada pula kisah yang menyebutkan bahwa Sunan Drajat pernah menikah dengan Nyai Manten di Cirebon, dan dikaruniai empat putra. Beliau wafat pada tahun 1522, dan dimakamkan di Desa Drajad, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Sunan Giri Sunan Giri bergelar Sultan Abd Al-Faqih karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abd Al-Faqih. Nama aslinya Muhammad Ain Al-Yaqin dan termasuk keturunan Imam Al-Muhajir. Dia sempat belajar kepada Sunan Ampel. Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ain Al-Yaqin. Sunan Giri lahir di Blambangan kini Banyuwangi pada tahun 1442 M. ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya, seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja Babad Tanah Jawi versi Meinsma. Ayahnya adalah Maulana Ishak saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai. Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam Bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri. Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata. Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa. Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau. Ia juga pencipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung yang bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam. Perjalanan Hidup Sunan Giri Berbicara tentang Sunan Giri banyak diliputi legenda. Di satu sisi memang menyulitkan, tetapi di sisi lain sebagai bukti bahwa beliau memang dihormati dan dipandang dengan khidmat oleh khalayak ramai, bahkan cenderung berlebihan. Namun demikian, dari legenda tersebut dapat diperoleh petunjuk tentang alur sejarahnya. Nama asli Sunan Giri adalah Raden Paku. Nama ini diberikan oleh Raden Rahmat Sunan Ampel sesuai dengan pesan ayahnya sendiri sebelum meninggalkan Jawa Timur. Selain itu, beliau memiliki panggilan lain, yaitu Ainul Yaqin, Abdul Faqih, Prabu Satmata, dan Joko Samudera. Nama ini merupakan pemberian ibu angkatnya, ketika beliau masih kecil. Sedangkan sebutan Prabu Satmata adalah suatu gelar kebesaran sebagai anugerah Tuhan ketika beliau menjabat sebagai raja di daerah Giri, Gresik, Jawa Timur. Raden Paku lahir di Blambangan sekarang Banyuwangi, 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudera, sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya, seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Menurut babad tanah Jawi versi Meinsma, Raden Paku kemudian dipungut oleh Nyai Semboja. Ayah beliau bernama Maulana Ishak, saudara kandung Sunan Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil mengislamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh sebab itu, beliau meninggalkan keluarga isterinya dan berkelana hingga ke Samudera Pasai. Raden Paku kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat di mana Raden Patah juga belajar. Selama berguru di Ampeldenta Joko Samudro berteman akrab dengan Makdum Ibrahim tak lain adalah putra dari Sunan Ampel yang nantinya bergelar Sunan Bonang. Joko Samudro saat di Ampeldenta diberi nama oleh Sunan Ampel atas permintaan dari Maulana Ishak yakni Raden Paku. Sunan Ampel sendiri memberi julukan kepada Joko Samudra dengan nama M. Ainul Yaqin karena kejujuran serta ketaatannya dengan sang Guru yakni Sunan Ampel sendiri. Dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi, Raden Paku dan Raden Makdum Ibrahim akan pergi ke Mekkah untuk naik haji sekaligus menuntut ilmu. Setelah sampai di Malaka dan singgah disana mereka bertemu dengan Maulana Ishak yang merupakan ayah kandung Raden Paku. Mereka kemudian diberi ilmu keislaman termasuk ilmu tasawuf. Menurut cacatan pada silsilah Bupati Gresik pertama yakni Kyai Tumenggung Poesponegoro, bahwa disana disebutkan Maulana Ishak dan Sunan Giri adalah guru Tarekat Sayathariyah. Maka bisa dikatakan aliran tasawuf dari Sunan Giri adalah aliran Tasawuf Tarekat Sayathariyah. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, beliau membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, selatan Gresik, Jawa Timur. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Oleh sebab itu, beliau dijuluki Sunan Giri. Pesantrennya tidak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, tapi juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Kono, raja Majapahit, karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan, memberi keleluluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantrennya pun ikut berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Dalam perkembangannya, Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik terpenting di Jawa waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasehat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti pemimpin tertinggi keagamaan di tanah Jawa. Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada abad 18. Sementara para santri pesantren tersebut juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau di Nusantara, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau. Dakwah Sunan Giri banyak melalui berbagai macam metode, mulai dari pendidikan, budaya, serta politik. Dalam bidang pendidikan, Sunan Giri tidak hanya didatangi oleh para santrinya dari berbagai daerah, melainkan juga Sunan Giri tidak segan-segan untuk mendatangi masyarakat dan menyampaikan ajaran Islam dengan empat mata. Setelah keadaan memungkinkan, masyarakat dikumpulkan dengan acara-acara selametan, upacara, dan lainnya, yang kemudian ajaran agama Islam disisipkan lambat laun masyarakat mulai melunak dan mengikuti ajaran Islam. Dalam bidang budaya, Sunan Giri mengembangkan dakwah Islam juga dengan mamanfaatkan seni pertunjukan yang menarik minat masyarakat. Sunan Giri juga dikenal pencipta tembang Asmaradhana dan Pucung, kemudian Padang Bulan, Jor, Gula Ganti, dan permainan anak-anak Cublak-cublak Suweng. Beliau wafat pada tahun 1506 M dan dimakamkan di atas bukit di daerah Dusun Giri Gajah, Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur. Sunan Gunung Jati Sunan Gunung Jati Maulana Al-Syarif Hidayatullah, lahir sekitar tahun 1448 M. ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abd Allah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Sunan Gunung Jati penyebar Islam terbesar di Jawa Barat. Dalam Babad Cirebon Naskah Klayan, banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. Kesemuanya ini hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai Negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati. Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan. Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mnedekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah. Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten. Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon dulu Carbon. Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat. Perjalanan Hidup Sunan Gunung Jati Sunan Gunung Jati lahir sekitar 1450 dengan nama Syarif Hidayatullah. Ayahnya adalah Syarfi Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar. Jamaluddin Akbar adalah seorang muballig besar dari Gujarat, India. Bagi kamu sufi, Jamaluddin Akbar dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar. Dia merupakan keturunan Rasulullah SAW., melalui jalur keturunan Husain bin Ali. Mengenai ibundanya, bernama Nyai Rara Santang. Adapun silsilah Sunan Gunung Jati berdasarkan dari garis ayahnya, sebagai berikut Kanjeng Nabi Muhammad Rosulullah SAW., Siti Fatimah istri Sayyidina Ali Sayid Khusein, Sayid Jaenal Abidin, Muhammad Bakir, Jafar Siddiq di Irak, Kasim Al-Kamil, Idris, Albakir, Akhmad, Baidillah, Muhammad, Alwi, Ali Gajam, Muhammad, Alwi di Mesir, Abdul Malik di India dari Hadramaut, Amir, Jalaluddin, Jamaluddin di Kamboja, Nurul Alim beristri putri Negara Mesir, Syarif Abdullah beristris Ratu Mas Rarasantang, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Nama ibu Sunan Gunung ialah Nyai Rara Santang yang kemudian diubah menjadi Syarifah Muda’im. Ia merupakan putri Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi yang memperistri Nyai Subang Larang. Ia merupakan adik Kian Santang dan Pangeran Walangsungsang yang mempunyai gelar Cakrabuwana atau Cakrabumi yang dikenal dengan Mbah Kuwu Cirebon Girang yang berguru pada Syekh Datuk Kahfi, muballigh yang berasal dari Baghdad yang nama aslinya adalah Idhadi Mahdi bin Ahmad. Silsilah dari ibunya sebagai berikut Prabhu Panji Kuda Lelean Maharaja Adimulya, Prabhu Ciung Wanara, Prabhu Dewi Purbasari, Prabhu Lingga Hiang, Prabhu Wastu Kancana, Prabhu Susuk Tunggal, Prabhu Banyak Larang, Prabhu Banyak Wangi, Prabhu Mundingkawati, Prabhu Anggalarang, Prabhu Siliwangi, Ratu Mas Rarasantang atau Syarifah Muda’im, Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah. Nama Sunan Gunung Jati begitu banyak, antara lain Syarif Hidayatullah dan Makhdum Gunung Jati, yang paling terkenal ialah dengan nama Falatehan atau Fatahillah. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah banyak yang menganggap mempunyai nama Fatahillah, padahal kenyataannya mereka beda orang. Mengenai Sunan Gunung Jati merupakan salah satu cucu Raja Pajajaran yang ikut menyebarkan agama Islam di Jawa Barat, yang kemudian dikenal sebagai salah satu dari Sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Mengenai asal-usul Fatahillah, ialah pemuda yang dikirim Sultan Trenggana dari Pasai guna membantu Sunan Gunung Jati dalam memberantas Portugis. Dikenal Sunan Gunung Jati, karena ia meneruskan kiprah dari Syekh Datuk Kahfi dengan membangun Pesantren Gunung Jati. Lalu ia menikah dengan Nyi Pakungwati, putri dari Pangeran Cakrabuana yang tidak lain adalah pamannya sendiri yang bernama asli Pangeran Walangsungsang. Di tahun 1479, ia menyerahkan Negeri Caruban kepada Sunan Gunung Jati. Selain sebagai ponakannya sendiri, ia adalah menantunya sendiri. Roda-roda pemerintahan oleh Sunan Gunung Jati untuk menyebarkan agama Islam lebih luas lagi. Sunan Kalijaga Sunan Kalijaga Maulana Muhammad Syahid, seorang da’i yang banyak bepergian, penulis nasihat-nasihat keagamaan yang dituangkan dalam bentuk wayang. Dia mengadopsi seni Jawa sebagai salah satu cara memperkenalkan ajaran tauhid. Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban, keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam. Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya. Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam kungkum’ di sungai kali atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan. Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit berakhir 1478, Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” pecahan kayu yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga. Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik pemujaan semata. Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah. Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga. Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang sekarang Kotagede – Yogya. Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu, selatan Demak. Perjalanan Hidup Sunan Kalijaga Sunan Kalijaga salah satu di antara sembilan tokoh Wali Songo yang memiliki peran atas penyebaran Islam di tanah jawa. Nama kecilnya, Raden Said, namun banyak nama lain yang ia sandang seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban dan Raden Abdurrahman. Sederetan nama tersebut mempunyai sejarah tersendiri baginya. Kehidupan yang unik dan menarik, membuat ia menyandang banyak nama. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi, di Tuban, dari seorang ayah yang menjabat Adipati Tuban Arya Wilatikta di bawah pimpinan kerajaan Majapahit. Mengenai asal-usul Sunan Kalijaga ada beberapa pendapat, pertama ada yang mengatakan bahwa ia memiliki keturunan Arab dan pendapat kedua menyatakan bahwa ia orang asli Jawa. Dalam sumber yang lain, mengatakan bahwa Sunan Kalijaga keturunan dari Arab, China, dan Jawa. Seperti yang dituturkan oleh Rahimsyah, Sunan Kalijaga keturunan Jawa. Bagi Ricklefs 1998, bahwa sejarah bangsa Indonesia sebelum Belanda tidak akurat, bahkan ia menambahkan tidak dapat dipercaya, tentu saja banyak versi sejarah. Karena, yang beredar dari mulut ke mulut. Hal ini juga ditegaskan oleh Atmodarminto 2001, sejarah Jawa dalam banyak buku utamanya pada babad kebanyakan tercampur dongeng serta mitos, untuk dilacak lebih jauh sangat tidak masuk akal. Kemudian Sunan Kalijaga menikahi Dewi Sarah binti Maulana Ishak. Dari pernikahannya dengan Dewi Saroh, Sunan Kalijaga dikarunai tiga anak, di antaranya Raden Umar Saidi yang kemudian hari meneruskan jejak Sunan Kalijaga, yang dikenal dengan sebutan Sunan Muria, Dewi Rakayuh, dan Dewi Sofiah. Untuk melacak lebih jauh sejarah Dewi Sarah yang merupakan putri Maulana Ishak. Maualana Ishak Sendiri memiliki anak, di antara Dewi Saroh dan Sunan Giri. Dalam menyebarkan Islam, ia mempunyai siasat atau cara yang unik dan menarik di antara para wali lainnya. Ia mendekati masyarakat, mengikuti yang kemudian dipelajari bagaimana masyarakat dapat menerima ajarannya. Hal inilah yang membuat masyarakat saat itu, senang atas kehadirannya. Ia tidak serta menyerang ajaran lama masyarakat yang masih kental dengan ajaran Hindu-Budha. Kejeniusannya dalam menghadapi masyarakat yang kental dengan ajaran lamanya, tidak sampai mengubah secara total melainkan diteruskan dengan cara serta sikap yang tidak antipati terhadap masyarakat. Bahkan, ia melestarikan kebudayaan serta tradisi yang sudah mengakar dengan suatu pandangan yang berbeda. Kendati demikian, Sunan Kalijaga merumuskan beberapa aspek yang sekiranya penting dalam penyebaran Islam. Pertama, ia melakukan suatu gerakan terhadap masyarakat dengan berbaur bersama masyarakat, melihat kesukaan mereka terhadap apapun. Kedua, ia melakukan sebuah upaya sedikit demi sedikit memperkenalkan ajaran Islam. Ketiga, membaurkan ajaran Islam dengan ajaran sebelumnya yang sudah menjadi budaya-tradisi. Ia sangat terbuka terhadap nilai-nilai yang sudah ada. Artinya, ia tidak hanya menunggulkan sikap keislamannya saja. Toleransi keagamaan menjadi ciri khas utama dan yang terpenting menghargai masyarakat dengan ragam polanya. Ia menyediakan ruang yang terbuka bagi masyarakat dengan keseniannya, budayanya, tradisinya. Dari sikapnya yang terbuka itulah, ia banyak mengetahui ke mana arah keinginan masyarakat. Ia memahami betul kode etik atau tidak menyinggung perasaan masyarakat. Proses dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga banyak yang berbeda dengan para sunan-sunan sebelumnya yang lebih cenderung formal. Perbedaan inilah yang kemudian membuat masyarakat menemukan nilai kehidupannya. Sementara pada sisi lain ia memperhatikan ajaran kedua agama tersebut sudah jauh berkembang sebelum Islam. Ia memahami, Islam sebagai agama anyar yang masih asing di kalangan masyarakat Nusantara harus disampaikan dengan cara-cara lain. Hal tersebut menjadi suatu persoalan bagaimana masyarakat dapat menerima ajaran baru yang dibawa olehnya. Maka, tercetus sebuah ide dengan memanfaatkan kebudayaan lokal, yaitu kesenian. Kesenian yang waktu itu hanya sebagai hiburan saja, di tangan Sunan Kalijaga berubah fungsi menjadi salah satu kegiatan dalam menyebarkan Islam. Utamanya pada wayang untuk mengajarkan fungsi-fungsi Islam pada kehidupan sehari-hari. Pada saat yang bersamaan itu juga, ia menyisipkan kata-kata yang tidak dapat dipahami oleh masyarakat hingga ada kemauan dari mereka untuk bertanya maksud dan arti dari kata-kata yang diujarkan olehnya. Proses inilah yang memberikan banyak pengaruh pada mereka. Ruang dialektika atau pertukaran pemikiran semakin membuat Sunan Kalijaga merasa yakin dapat mengislamkan masyarakat. Dalam versi lain juga disebutkan melalui sebuah kisah. Seperti yang tertera dalam gending Wali Songo. Ada beberapa hal yang dapat dipetik melalui kisah tersebut, sebagai berikut Pada suatu hari terpetiklah sebuah ide atau gagasan dari para wali untuk mengajak masyarakat untuk masuk agama Islam. Tabuhan diletakkan di dalam masjid tanpa ada yang nabuh bergending sendiri. Melalui gending tersebut, masyarakat sekitar yang mendengarnya terperanjat dengan kesyahduan lagu, selanjutnya masyarakat berkumpul untuk melihat dan ingin langsung ke tempat. Sedang di pintu para wali sudah berkumpul. Untuk masuk ke tempat tersebut harus membayar karcis. Karcis itu bukan berupa uang melainkan sebuah kalimat syahadat, yang dikenal dengan kalimosodo. Bagi yang membaca kedua kalimat tersebut diizinkan masuk sedang bagi yang lain masih harus menunggu sampai mereka membaca kedua kalimat tersebut. Setelah mereka masuk ke dalam, mereka terperangah sekaligus terkejut melihat alat-alat gamelan. Gamelan alat yang sudah disesuaikan dengan perintah umat Islam. Kemudian para wali menjelaskan salah satu dari alat tersebut. Pertama, Gambang alat musik yang berisi 17 yang sesuai dengan shalat lima waktu sehari-semalam Dzuhur, Ashar, Magrib, Isya’ dan Subuh. Kedua, Bonang berisi 10 karena ada dua menjadi 20, yang sesuai dengan sifat Tuhan yang 20 puluh. Ketiga, Kentir bermakna sebagai ajeg selalu kepada Tuhan. Keempat, Saron berisi 6 sesuai dengan Rukun Islam. Kelima, Seruling disuruh berseru atau ingat selalu pada Tuhan yang mencipta alam dan seisinya. Keenam, Gendang yang disuruh ajeg selalu pada Tuhan, bunyi Ta’ bermakna suruh minta pada Tuhan, Tung bermakna selalu menyatu, Deng bermakna harus selalu sigap selalu. Mengenai kidung ciptaan Sunan Kalijaga yang sampai saat ini masih trend dikalangan masyarakat, khususnya bagi pemain lakon ketoprak, tayub, dan kelompok macapat akan mengerti kidung ciptaan Sunan Kalijaga yang dikenal dengan dhandhanggula. Adapun isi dhandhanggula sendiri berbunyi sebagai berikut Ana kidung rumeksa ing wengi Teguh hayu luputa ing lara Luputa bilahi kabeh Jim setan datan purun Paneluhan tan ana wani Miwah panggawe ala Gunaning wong luput Geni atemahan tirta Maling adoh tan ana ngarah ing mami Guna duduk pan sirna. Ada kidung melindungi di malam hari Penyebab kuat terhindar dari segala kesakitan Terhindar dari segala petaka Jin dan setan pun tidak mau Segala jenis sihir tidak berani Apalagi perbuatan jahat Guna-guna dari orang tersingkir Api menjadi air Pencuri pun menjauh dariku Segala bahaya akan lenyap. Sunan Kudus Sunan Kudus adalah Maulana Ja’far al-Shadiq ibn Sunan Utsman. Nama kecilnya Ja’far Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah adik Sunan Bonang, anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang, kegiatannya berpusat di Kudus, Jawa Tengah. Berkat ketinggian ilmu dan kecerdasan pemahamannya, oleh orang-orang Jawa dijuluki walinya ilmu. Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga sangat toleran pada budaya setempat, bahkan cara penyampaiannya lebih halus. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya. Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Panangsang. Perjalanan Hidup Sunan Kudus Sunan Kudus salah satu dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Ia diperkirakan lahir pada 9 September 1400 Masehi/808 Hijriah. Ada juga yang mengatakan kalau Sunan Kudus lahir sekitar tahun 1500, dan meninggal tahun 1550, makamnya berada di Kudus. Adapun nama dari Sunan Kudus sendiri, ialah Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan. Mengenai asal-usul atau silsila Sunan Kudus, ia merupakan putra dari Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji. Ibunya bernama Syarifah Ruhil atau Dewi Ruhil. Yang diberi Nyai Anom Manyuran binti Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel. Jika diurut, Sunan Kudus akan sampai pada Nabi Muhammad, yang keturunan ke-24. Untuk mengetahui lebih lanjut silsilahnya sebagai berikut Sunan Kudus bin Sunan Ngudung bin Fadhal Ali Murtadha bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah. Sunan Kudus dapat mewarisi kepribadian orang China baca Tiongkok, ketika ia berguru pada Kyai Telingsing. Pelajaran berharga yang ia dapatkan dari Kyai Telingsing, ia menjadi pribadi yang tekun, disiplin untuk meraih keinginannya. Keinginan yang ia dambakan saat melakukan dakwah untuk menyebarkan syiar Islam. Ia berhadapan dengan masyarakat yang mempunyai ajaran yang taat, yang sukar sekali dapat dirubah dalam waktu dekat. Berkat ketekunannya ia dapat merubah masyarakat yang beragama Hindu dan Budha ke Islam. Selesai berguru pada Kyai Telingsing, kemudian ia hijrah ke Surabaya guna belajar pada Sunan Ampel. Setelah ia selesai menimba ilmu dari para guru-gurunya. Ia berkelana ke berbagai daerah di Jawa Tengah, utamanya di jalur selatan seperti Sragen, Simo Boyolali sampai ke Gunung Kidul Yogyakarta. Adapun metode dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kudus, ia meniru pola atau cara yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Guna melacak lebih jauh metode dakwah yang dilakukannya sebagai berikut Untuk merubah suatu masyarakat yang masih kental dengan ajaran lamanya. Sunan Kudus memberikan kelonggaran terhadap adat istiadat yang sudah berkembang sejak lama. Asal tidak menggunakan jalan kekerasan atau radikal saat berhadapan dengan masyarakat. Ada yang tidak sesuai dengan Islam, selagi itu dapat diubah, Sunan Kudus berusaha perlahan-lahan dihilangkan. Tut Wuri Handayani yang berarti ikut serta dan nimbrung dengan kegiatan masyarakat dengan sedikit demi seidikit mempengaruhinya. Sesuai dengan sebuah prinsipTut Wuri Hangiseni masuk secara perlahan lalu memberikan nuansa Islam di dalamya. Tidak melakukan konfrontasi langsung atau melakukan tindakkekerasan. Prinsip dikenal dengan sebuah ujaran, mengambil ikan tetapi tidak sampai mengeruhkan airnya. Berusaha menarik simpati masyarakat agar menyukai ajaran agama Islam. Sehingga, secara perlahan mereka akan mengikuti. Mengenai bagaimana cara Sunan Kudus melakukan pendekatan dan bentuk model-model yang ditemui. Kecerdasannya dalam mendekati umat beragam menarik. Hal itu dapat dilacak melalui kiprahnya yang sampai sataa ini masih dikenang. Pendekatan-pendekatan persis dengan cara Sunan kalijaga. Namun, ia mempunyai cara tersendiri dalam mendekati masyarakat yang berbeda agama. Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana model strategi pendekatan yang dilakukan oleh Sunan Kudus, dapat dipetakan sebagai berikut Pertama, ia mendekati umat Hindu. Ia mengajarkan toleransi dengan cara menghormati sapi yang memang keramat dalam agama Hindu. Cara lain, ialah ia membangun Menara Masjid dengan model Candi Hindu. Kedua, ia mendekati umat Budha. Ia membangun tempat wudhu’ yang berjumlah delapan. pada delapan tempat wudu’ tersebut, ia membangun Arca Kebo Gumarang, karena ia tahu kalau Arca tersebut dihormati oleh umat Budha. Ketiga, melakukan pembaharuan dalam acara Ritual Mitoni. Acara ini untuk bersyukur kepada yang Tuhan berkat kelahiran anak. Acara ini sejak lama disakralkan oleh umat kedua agama tersebut. Sunan Kudus merubah pola atau cara penyembahan yang biasa kepada arca, diubah menjadi bersyukur kepada Allah. Dengan ketiga model pendekatan tersebut, Sunan Kudus berhasil membawa kedua umat beragam tersebut masuk Islam. Hal ini bertujuan untuk menarik simpati masyarakat agar mudah ikut ke ajaran Islam. Sehingga, mereka masuk tanpa adanya unsur paksaan seperti yang memang menjadi landasan Islam. Artinya, Sunan Kudus perlahan mengintrik psikologi kedua agama tersebut, dengan tanpa sadar mereka masuk Islam dengan sendirinya. Sampai-sampai model masjid, utamanya Menara merupakan salah satu bukti berapa Sunan Kudus tidak segan-segan untuk mengadopsi tradisi arsitektur yang selama ini dikembangkan oleh kalangan pemeluk Hindu dan Budha sebagaimana umumnya bangunan candi peninggalan mereka. Itulah kelebihan Sunan Kudus selain sebagai salah satu panglima perang yang pernah dimiliki oleh Demak Bintoro. Ia tidak hanya cerdas dalam mengatur strategi perang, melainkan juga cerdas dalam mengajak masyarakat dalam agama Islam. Asumsi tersebut tidak lain, hanyalah untuk membawa masyarakat menuju suatu ajaran yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadist dengan mengubah pola pikir yang sebelumnya. Pendekatan ini lebih kepada nilai-nilai kebudayaan serta tradisi yang suda berkembang sebelumnya. Sunan Maulana Malik Ibrahim Maulana Malik Ibrahim w. 1419 M adalah tokoh pertama yang memperkenalkan Islam di Jawa. Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy lahir di Samarkand, Asia Tengah. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi. Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri Raden Paku. Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw. Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat dikenal dengan Sunan Ampel dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya. Perjalanan Hidup Maulana Malik Ibrahim Sunan Gresik atau yang lebih dikenal dengan Maulana Malik Ibrahim adalah salah satu dari sembilan wali Walisongo. Menurut para sejarawan, beliau dianggap sebagai wali pertama yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Beliau dimakamkan di Desa Gapurosukolilo, Gresik, Jawa Timur. Tidak terdapat bukti sejarah yang meyakinkan mengenai asal keturunan Maulana Malik Ibrahim, meskipun pada umumnya disepakati bahwa ia bukanlah orang Jawa asli. Sebutan Syekh Maghribi yang diberikan masyarakat kepadanya, kemungkinan menisbatkan asal keturunannya dari wilayah Arab Maghrib di Afrika Utara. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya dengan nama Makhdum Ibrahim as-Samarqandy, yang mengikuti pengucapan lidah Jawa menjadi Syekh Ibrahim Asmarakandi. Ia memperkirakan bahwa Maulana Malik Ibrahim lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Dalam buku The History of Java, mengenai asal mula dan perkembangan kota Gresik, Raffles menyatakan bahwa menurut penuturan para penulis lokal, Maulana Malik Ibrahim merupakan seorang Pandita terkenal berasal dari Arabia, keturunan dari Jenal Abidin, dan sepupu raja Chermen sebuah negara Sabrang, yang menetap bersama para Mahomedans lainnya di Desa Leran di Jang’gala. Namun, kemungkinan pendapat yang terkuat adalah berdasarkan pembacaan Moquette atas baris kelima tulisan pada prasasti makamnya di Desa Gapura Wetan, Gresik; yang mengindikasikan bahwa beliau berasal dari Kashan, suatu tempat di Persia sekarang Iran. Adapun dalam berdakwah, para sejarawan menyatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim dianggap sebagai wali pertama yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Beliau datang ke Nusantara Jawa tidak sendirian, disertai beberapa orang. Dan, daerah yang pertama kali disinggahinya ialah Desa Sembalo yang terletak di daerah Leran, Kecamatan Manyar, sembilan kilometer dari Kota Gresik. Beliau menyebarkan agama Islam dimulai dari Jawa bagian timur, dengan mendirikan masjid pertama di Desa Pasucinan, Manyar. Dalam berdakwah, pertama-tama yang dilakukan Maulana Malik Ibrahim adalah mendekati masyarakat melalui pergaulan. Budi bahasa yang ramah dan santun diperlihatkannya di dalam pergaulan sehari-hari. Ia tidak menentang secara tajam agama dan kepercayaan hidup dari penduduk pribumi, melainkan hanya memperlihatkan keindahan dan kebaikan yang dibawa oleh agama Islam. Berkat keramah-tamahannya serta sifatnya yang lembut tersebut membuat masyarakat tertarik untuk memeluk agama Islam. Setelah berhasil memikat hati masyarakat sekitar, aktivitas selanjutnya yang dilakukan Maulana Malik Ibrahim ialah berdagang. Ia berdagang di tempat pelabuhan terbuka sekarang dinamakan desa Roomo, Manyar. Akivitas berdagang ini membuat beliau dapat berinteraksi dan lebih dekat dengan masyarakat luas, khususnya dengan orang-orang dari kerajaan dan para bangsawan yang ikut serta dalam kegiatan perdagangan baik sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal, maupun pemodal. Setelah dakwahnya diterima oleh masyarakat, Maulana Malik Ibrahim kemudian melakukan kunjungan ke daerah Trowulan, ibukota Majapahit. Meskipun raja Majapahit tidak masuk Islam, namun kehadiran Maulana Malik Ibrahim disambut dengan baik, bahkan beliau diberikan sebidang tanah di pinggiran Kota Gresik. Wilayah itulah yang sekarang dikenal dengan nama desa Gapura. Selanjutnya, dalam rangka mempersiapkan kader untuk melanjutkan perjuangan menegakkan ajaran-ajaran Islam, Maulana Malik Ibrahim membuka pesantren-pesantren yang merupakan tempat mendidik pemuka agama Islam pada masa selanjutnya. Setelah selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, Syeh Maulana Malik Ibrahim wafat tahun 1419. Makamnya kini terdapat di desa Gapura, Gresik, Jawa Timur. Sunan Muria Sunan Muria Maulana Raden Umar Said putera Raden Mas Said. Bergelar Sunan Muria karena dimakamkan di dataran tinggi Muria, Jawa tengah. Ia putra Dewi Saroh, adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus. Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan Sang Ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya. Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak 1518-1530. Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti. Perjalanan Hidup Sunan Muria Sunan Muria salah satu Wali Songo yang dilahirkan kira-kira pada abad 15. Nama aslinya ialah Raden Umar Said atau dikenal dengan sebutan Raden Said. Sedang nama kecil darinya, Raden Prawoto. Ia putra dari Sunan Kalijaga dari Dewi Sarah binti Maulana Ishak. Ia tiga bersaudara dengan Dewi Rakayuh, dan Dewi Sofiah. Sunan Muria merupakan cucu dari Maulana Ishak, dan pamannya Sunan ia menikah dengan Dewi Sujinah, yang tidak lain putri dari Sunan Ngudung. Kemudian ia menjadi adik ipar Sunan Kudus. Itu versi utama dari dua pendapat yang menyatakan Sunan Muria putra dari Sunan Kalijaga. Seperti yang diungkapan oleh Umar Hasyim dalam buku Sunan Muria Antara Fakta dan Legenda yang diterbitkan Menara Kudus pada tahun 1985. Sedang dalam versi kedua, merupakan buku berjudul Pustoko Darah Agung yang ditulis oleh R. Darmowasito, yang menyatakan bahwa Sunan Muria putera dari Raden Usman Haji atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ngudung. R. Darmowasito menyatakan kalau Sunan Ngudung yang menikah dengan Dewi Sarifah melahirkan empat putra, di antaranya Raden Umar Said, Sunan Giri II, Raden Amir Haji atau Sunan Kudus,serta Sunan Giri II. Ia mempunyai peran besar dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Penyebaran Islam yang dilakukan oleh Sunan Muria tidak jauh berbeda dengan Sunan Kalijaga yaitu mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah. Ia berdakwah pada rakyat jelata di daerah Colo, tempat beliau berdakwah. Namun tempat tinggal beliau terletak di puncak Gunung Muria. Ia merasa nyaman di sana, karena ia bergaul bersama rakyat jelata, seraya mengajarkan bercocok tanam, berdagang dan melaut. Bahkan, lewat kesenian itu sebagai media dakwah ia menghasilkan sebuah tembang Sinom dan Kinanti. Adapun wilayah yang menjadi sasaran dakwahnya meliputi, Tayu, Juwana, Kudus, dan Lereng Gunung muria. Kemudian beliau dikenal dengan sebutan Muria, karena letaknya yang berada di Lereng Gunung Muria. Dengan tembang-tembang itu ia mengajak umat agar mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Selain alasan tinggal di sana, ia merasa senang tinggal dengan masyarakat sekitar daripada ia berdakwah pada kalangan kaum bangsawan. Pribadi yang ditampakkan Sunan Muria tidak lagi seperti kedudukannya sebagai wali, tetapi ia berbaur dengan masyarakat. Dengan itu ia dapat mengetahui keluhan masyarakat, kebutuhan. Hal inilah yang ia pelajari dari ayahnya Sunan Kalijaga. Gaya-gaya atau cara berdakwah Sunan Kalijaga tidak ia hapus, ia hanya melakukan beberapa pembenahan yang sekiranya itu penting untuk diubah. Ada hal yang harus diketahui, kenapa Sunan Muria lebih suka berdakwa pada kalangan bawah, tidak lain karena ia mengikuti jejak sang ayah. Pada ajaran Walisongo ada dua aliran yang memiliki karakter berbeda dalam berdakwah, antara Golongan pertama, yaitu Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Snan Gunung Jati. Golongan ini lebih terkesan moderat dalam menjalankan dakwahnya, lunak dan mereka memanfaatkan kebudayaan dan tradisi yang pernah ada. Golongan kedua, yaitu Sunan Giri, Sunan Ampel dan Sunan Derajat. Golongan ini lebih kepada metode dakwah yang bersumber pada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana yang menjadi pedoman umat Islam pada umumnya. Golongan pertama disebut sebagai aliran Tuban atau Abangan. Sedang golongan kedua disebut aliran Putihan atau Santri. Dalam prakteknya, golongan kedua, lebih suka mendekati kaum ningrat dan kaum hartawan. Akan tetapi golongan kedua, lebih suka mendekati rakyat jelata. Selain dikenal sebagai pendakwah yang lues, Sunan Muria mempunya kesaktian yang luar biasa. Ini dibuktikan fisik kuat karena ia sering naik-turun Gunung Muria yang memiliki ketinggian 750 meter. Setiap hari ia mendaki dan turun untuk menyebarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar. Andai fisiknya lemah, tentu ia tidak akan sampai bertahun-tahun bisa melakukan yang demikian. Sampai akhir hayatnya ia terus melakukan dakwahnya setiap hari. Bahkan, Sunan Muria dikenal sebagai soerang yang menjadi penengah ketika ada persoalan, utama ketika terjadi konflik internal di Kesultanan Demak, pada tahun 1518-1530. Seperti ayahnya, Sunan Kalijaga,ia terkenal pribadi yang mampu dalam memecahkan berbagai persoalan, betapapun hal itu sangat rumit. Solusinya dapat diterima oleh kelompok yang sedang berseteru. Dengan dalih tersebut, Sunan Muria salah satu Wali Songo yang terkenal dengan Ia seorang yang pemberani. Ia seorang yang sakti mandraguna. Ia orang seorang yang berwibawa. Ia seorang yang pandai memecahkan masalah. Ia juga seorang yang banyak berjasa.
- Era Wali Songo menandai berakhirnya dominasi Hindu-Buddha di nusantara, untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Wali Songo adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Sebagai penyebar agama Islam, nama mereka sudah sangat dikenal di kehidupan masyarakat tetapi, Wali Songo lebih sering dipanggil dengan gelarnya sebagai Sunan, daripada nama aslinya. Dalam budaya Jawa, Sunan adalah singkatan dari susuhunan, yakni sebutan bagi orang yang diagungkan atau dihormati karena kedudukan dan jasanya di masyarakat. Berikut ini tabel nama-nama Wali Songo beserta nama aslinya. Nama gelar Wali Songo Nama asli Wali Songo Sunan Gresik Maulana Malik Ibrahim Sunan Ampel Raden Rahmatullah Sunan Giri Muhammad Ainul Yaqin Sunan Bonang Maulana Makdum Ibrahim Sunan Drajat Raden Qasim Sunan Kalijaga Raden Mas Syahid Sunan Muria Raden Said Sunan Kudus Jaffar Shadiq Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah Baca juga Wali Songo Penyebar Islam di Tanah Jawa Sunan Gresik Nama asli Sunan Gresik adalah Maulana Malik Ibrahim atau Makdum Ibrahim lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy. Maulana Malik Ibrahim terkadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sunan Ampel Raden Rahmatullah atau Sunan Ampel dilahirkan pada sekitar 1401 Masehi di Champa. Ia adalah putra Sunan Gresik yang kemudian menikah dengan putri Tuban bernama Nyai Ageng Manila. Dari perkawinannya itu, Raden Rahmatullah memperoleh keturunan Putri Nyai Ageng Maloka, Maulana Makdum Ibrahim Sunan Bonang, Syarifuddin Sunan Drajat, dan Putri Istri Sunan Kalijaga. Sunan Giri Sunan Giri mempunyai nama asli Muhammad Ainul Yaqin. Di samping itu, ia mempunyai banyak julukan, yakni Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, dan Joko Samudro. Muhammad Ainul Yaqin adalah keturunan ke-23 Nabi Muhammad yang kemudian menjadi murid Sunan Ampel. Ayahnya adalah Maulana Ishaq, seorang mubaligh dari Asia Tengah, sementara ibunya adalah Dewi Sekardadu, putri penguasa Blambangan pada periode akhir Kerajaan Majapahit. Baca juga Moh Limo, Ajaran Dakwah Sunan Ampel Sunan Bonang Sunan Bonang merupakan putra Sunan Ampel yang memiliki nama asli Maulana Makdum Ibrahim. Lahir di Bonang, Tuban, pada 1465, ia telah diajarkan disiplin yang ketat sedari kecil. Sunan Ampel menamainya Maulana Makdum, yang bermakna cendekiawan Islam yang dihormati karena kedudukannya dalam Drajat Sunan Drajat adalah adik Sunan Bonang yang mempunyai nama asli Raden Qasim. Raden Qasim disebut sebagai seorang wali yang hidupnya paling bersahaja, walaupun dalam urusan dunia juga sangat rajin mencari rezeki. Di kalangan rakyat jelata, ia dikenal sebagai pribadi yang lemah lembut dan sering menolong orang-orang yang menderita. Sunan Kalijaga Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada 1450 dengan nama Raden Mas Syahid. Ia adalah putra adipati Tuban yang bernama Raden Sahur Tumenggung Wilatikta. Sunan Kalijaga juga dikenal dengan nama lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat berendam di sana, ia sering berendam di sungai kali atau dalam bahasa Jawa disebut jaga kali. Baca juga Sunan Kalijaga, Berdakwah Lewat Wayang Sunan Muria Sunan Muria lahir dengan nama Raden Said atau Raden Umar Said. Ketika kecil, ia juga dikenal dengan nama Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, yang terletak 18 kilometer ke utara Kota Kudus. Raden Said adalah putra Sunan Kalijaga yang juga memiliki pertalian keluarga dengan Sunan Giri, dari garis ibunya. Sunan Kudus Sunan Kudus memiliki nama asli Jaffar Shadiq. Ia adalah putra Sunan Ngundung dan Syarifah, adik Sunan Bonang. Jaffar Shadiq banyak berguru kepada Sunan Kalijaga, oleh karena itu caranya mendekati masyarakat Kudus adalah dengan sangat toleran terhadap budaya setempat yang masih kental dengan ajaran Hindu-Buddha. Salah satu peninggalan Sunan Kudus yang paling terkenal adalah Masjid Menara Kudus, yang arsiteknya bergaya campuran Hindu dan Islam. Sunan Gunung Jati Nama asli Wali Songo ini adalah Syarif Hidayatullah, yang juga dikenal sebagai pendiri Kesultanan Cirebon. Dengan begitu, Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya Wali Songo yang memimpin pemerintahan. Ia adalah putra pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Sedangkan dari pihak ibu, Sunan Gunung Jati masih keturunan Pajajaran. Referensi Restianti, Hetti. 2013. Mengenal Wali Songo. Bandung TITIAN ILMU. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Ilustrasi dari sampul buku "Bandit Saints of Java How Java's eccentric saints are challenging fundamentalist Islam in modern Indonesia" karya George Quinn. Dalam berbagai kitab sejarah dan babad Jawa, Syekh Jumadil Kubra disebut sebagai leluhur Walisongo. Petilasan yang diyakini sebagai makamnya berada di beberapa tempat di Jawa. Banyak orang datang untuk ziarah. Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo menghimpun berbagai sumber lokal tentang Syekh Jumadil Kubra. Dalam Kronika Banten, Syekh Jumadil Kubra digambarkan sebagai nenek moyang Sunan Gunung Jati. Ceritanya, Ali Nurul Alam, putra Syekh Jumadil Kubra, tinggal di Mesir dan memiliki anak bernama Syarif Abdullah. Syarif Abdullah memiliki anak bernama Syarif Hidayatullah yang kemudian menjadi Sunan Gunung Jati. Dalam Babad Cirebon disebutkan bahwa Syekh Jumadil Kubra sebagai leluhur Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, Sunan Ampel, dan Sunan Kalijaga. Kronika Gresik menyebut Syekh Jumadil Kubra memiliki hubungan darah dengan Sunan Ampel dan tinggal di Gresik. Putranya, Maulana Ishaq dikirim ke Blambangan untuk menyebarkan ajaran Islam. Maulana Ishaq adalah ayah Sunan Giri. “Jadi, Syekh Jumadil Kubra, menurut versi ini, adalah kakek dari Sunan Giri,” tulis Agus. Sementara itu, Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java mencatat bahwa Syekh Jumadil Kubra bukanlah moyang para wali, tapi pembimbing wali pertama. Raden Rahmat yang kelak menjadi Sunan Ampel, datang dari Champa ke Palembang. Dari sana, ia kemudian ke Gresik untuk menemui Syekh Molana Jumadil Kubra, seorang ahli ibadah yang tinggal di Gunung Jali. Menurut Syekh Molana Jumadil Kubra kedatangan Raden Rahmat telah diramalkan oleh Nabi. Ia dipilih untuk membawa ajaran Nabi di pelabuhan timur Pulau Jawa. Karenanya keruntuhan agama kafir telah dekat. Babad Tanah Jawi menuturkan bahwa Syekh Jumadil Kubra adalah sepupu Sunan Ampel. Ia hidup sebagai pertapa di hutan dekat Gresik. Kisah Syekh Jumadil Kubra sebagai pertapa menjadi legenda di sekitar lereng Gunung Merapi, di utara Yogyakarta. Ia diyakini sebagai wali tertua yang berasal dari Majapahit. Ia hidup bertapa di hutan Lereng Merapi. “Syekh Jumadil Kubra dalam legenda itu diyakini berusia sangat tua sehingga dipercaya menjadi penasihat rohani Sultan Agung,” tulis Agus. Kisah Syekh Jumadil Kubra yang bernuansa perkawinan sedarah terdapat dalam Babad Pajajaran. Saudara Sunan Ampel itu hidup sebagai pertapa di hutan dekat Gresik. Ia ditinggal mati istrinya ketika melahirkan. Putrinya tumbuh menjadi gadis cantik. Suatu hari, Jumadil Kubra melakukan hubungan badan dengannya hingga menghasilkan seorang putra. Karena malu, ia menceburkan diri ke sungai dan tenggelam. Ia dimakamkan di Gresik. Kendati namanya melegenda seantero Jawa, sejarawan Belanda, Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat mendapati keanehan dalam namanya. Jumadil lebih mengingatkan kepada nama bulan ketimbang nama manusia. Nama ini adalah versi ingatan orang Jawa dari seorang penyebar Islam asal Asia Tengah. Jejak Tarekat Kubrawiyah Van Bruinessen menjelaskan bahwa nama Jumadil Kubra merupakan penyimpangan dari Najmuddin al-Kubra. Di Jawa, pengucapan namanya berubah menjadi Najumadinil Kubra. Selanjutnya melalui penghilangan bunyi suku kata pertama dan penyingkatan suku kata keempat dan kelima, penyebutan namanya berubah lagi menjadi Jumadil Kubra. Jumadil Kubra memang mirip nama Arab tapi melanggar tata bahasa Arab. Kata Arab, Kubra, adalah kata sifat dalam bentuk mu’annats feminin, bentuk superlatif dari kata Kabir yang artinya besar. Sementara itu, bentuk kata mudzakkar maskulin yang sesuai adalah akbar. “Aneh, menjumpai kata al-Kubra, yang mahabesar’, sebagai bagian nama seorang laki-laki,” tulis Van Bruinessen. Dalam sejarah keilmuan Islam, Najmuddin al-Kubra adalah satu-satunya tokoh terkemuka yang diberi gelar “Kubra”. Ia mendirikan tarekat Kubrawiyah yang berkembang di Iran dan Asia Tengah pada abad ke-13 hingga ke-17. “Ia sering kali hanya disebut dengan nama Kubra, menyebarkan ajarannya di Khwarizm Asia Tengah, dan wafat di sana pada 1221,” tulis Van Bruinessen. Baca juga Dua Wali dalam Konflik Demak Tarekat Kubrawiyah kemudian menjadi salah satu aliran tasawuf paling awal yang masuk ke Nusantara. “Aliran tasawuf yang berkembang paling awal adalah Akmaliyah dan Syathariyah kemudian disusul Kubrawiyah, Haqmaliyah, Samaniyah, Rifa’iyah, Khalwatiyah, Naqsyabandiyah, Qadiriyah, dan lain-lain,” tulis Agus. Kendati keberadaan Kubrawiyah tak tercatat di Indonesia, Syekh Jumadil Kubra menjadi jejak meyakinkan adanya pengaruh tarekat itu pada awal perkembangan Islam di Jawa. Nama Najmuddin Kubra dan silsilah tokoh Kubrawiyah lainnya disebut dalam beberapa babad, terutama Sajarah Banten Rante-Rante, sebagai guru dan teman seperguruan Sunan Gunung Jati ketika belajar di Makkah. “Dengan kata lain, babad ini menunjukkan Najmuddin Kubra dan spiritualitasnya, tarekat Kubrawiyah, sebagai inspirasi utama Islam sufi yang berkembang di Indonesia,” tulis Van Bruinessen. Peng-Arab-an Jumadil Kubra Versi lain menyebut para sayid keturunan Nabi dari Hadramaut punya pengaruh besar terhadap Islam di Indonesia. Mereka datang ke Nusantara dalam jumlah besar baru pada abad ke-19. Namun, para pedagang dan ulama telah sampai dan menetap di Jawa selama beberapa abad. Menurut mereka, para wali yang mengislamkan Jawa dan wilayah lain di Asia Tenggara adalah keturunan para sayid dari Hadramaut. Orang yang dianggap sebagai leluhur bersama mereka bernama Jamaluddin Husain al-Akbar. “Kiai Jawa cenderung mempercayai versi ini daripada versi babad, yang di antara keduanya terdapat banyak kesejajaran,” tulis Van Bruinessen. Baca juga Awal Mula Datangnya Orang Arab ke Nusantara Kisah Jamaluddin al-Akbar banyak persamaannya dengan Jumadil Kubra yang dikisahkan dalam babad. Kendati begitu, menurut Van Bruinessen, versi babad lebih asli daripada versi para sayid. Cerita Jamaluddin al-Akbar versi para sayid adalah bentuk upaya pada abad ke-20 awal untuk “mengoreksi” legenda-legenda Jawa. Dalam hal ini mereka mengganti nama Jumadil Kubra, yang telah lebih dulu populer sebagia leluhur para wali, dengan nama Jamaluddin al-Akbar. Kata sifat Kubra diganti dengan kata Arab yang lebih tepat, yaitu al-Akbar. Nama Jumadil diganti dengan nama Arab yang paling mirip, yaitu Jamaluddin. “Bahkan sebuah silsilah yang lebih meyakinkan direkonstruksi,” tulis Van Bruinessen. Begitu juga berbagai legenda yang berbeda dan tak cocok satu sama lain mengenai Jumadil Kubra digabungkan ke dalam keseluruhan kisah yang dibuat lebih koheren. Unsur yang tak sesuai dengan Islam, seperti perkawinan sedarah juga dibuang. Menurut Van Bruinessen, upaya merevisi kisah tentang Jumadil Kubra adalah perumpamaan bagi metamorfosis sejarah Islam Indonesia. Perubahan nama Najmuddin al-Kubra menjadi Jumadil Kubra, lalu berubah lagi menjadi Jamaluddin al-Akbar bukan cuma soal evolusi bahasa. Sebagai seorang sufi Asia Tengah berbahasa Persia, Jumadil Kubra mewarisi tradisi spiritual Iran. Mungkin saja ia dipengaruhi oleh amalan-amalan Tantrisme. Ini yang membuat ajarannya menarik bagi orang Jawa, karena mudah ditempelkan kepada peninggalan berbagai tradisi Tantrik pra-Islam. “Karena itu memudahkannya diterima ke dalam ajaran tasawuf batiniah Islam,” tulis Van Bruinessen. “Perubahan namanya menjadi Jamaluddin al-Akbar menunjukkan perhatian yang meningkat pada peng-Arab-an secara bertahap Islam Jawa secara umum.” Pendapat itu memang sekadar hipotesis. Jejak Najmuddin al-Kubra dan ajaran yang dibawanya di Nusantara pun masih samar. Ia sendiri tak pernah datang ke Nusantara, karena hidup jauh sebelum orang-orang di Nusantara mulai naik haji. Namun, menurut Van Bruinessen, amalan sufi Kubrawiyah yang telah mengilhami Walisongo paling tidak diabadikan dalam nama simboliknya Jumadil Kubra.
Nama Nama Walisongo atau Walisanga - Walisongo atau walisanga adalah julukan yang diberikan kepada para penyebar agama Islam yang berjumlah sembilan orang. Mereka memulai penyebarannya di tanah jawa pada abad Nama Walisongo atau WalisangaDaftar Isi Maulana Malik Ibrahim Sunan Ampel Sunan Bonang Sunan Drajat Sunan Kudus Sunan Giri Sunan Kalijaga Sunan Muria Sunan Gunung Jati Nama-nama para wali tersebut adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, dan Sunan Gunung wali tersebut tinggal di daerah Jawa, yaitu Jawa Timur terutama daerah Surabaya, Gresik, Lamongan, Jawa Tengah terutama daerah Demak, Kudus, Muria, dan Jawa Barat khususnya Maulana Malik IbrahimMaulana Malik Ibrahim putra dari Syekh Jumadil Kubra Maulana Akbar. Pada umumnya, silsilah Maulana Malik Ibrahim dianggap termasuk keturunan Rasulullah SAW, Meskipun masih terjadi perbedaan pendapat tentang urutan nama-nama garis silsilah lain dari Maulana Malik Ibrahim adalah Kakek Bantal, Sunan Tandhes, Sunan Raja Wali, Wali Quthub, Mursyidul Auliya’ Wali Sanga, Sayyidul Auliya’ Wali Sanga, Maulana Maghribi, Syekh Maghribi, Sunan Maghribi, atau Sunan kedatangan Maulana Malik Ibrahim ke tanah Jawa tahun 1404 M bertepatan dengan masa kepemimpinan Khilafah Turki Utsmani, yaitu Sultan Muhammad I 1379-1421 M, putra Sultan Bayazid I. Dalam masa Sultan Bayazid I, di daerah Timur Tengah telah terjadi berbagai pertempuran. Selain Daulah Utsmani harus berhadapan dengan Salibis Eropa sebagai kelanjutan perang salib, juga serangan dari Timur Lenk yang menguasai Persia, termasuk Samarkand dan ditugaskan oleh Sultan Muhammad I, Syekh Maulana Malik Ibrahim datang ke Jawa berangkat langsung dari Turki[3]. Beliau adalah seorang ahli irigasi dan tata negara. Beliau pernah ditugaskan ke Hindustan untuk membangun irigasi di daerah itu pada pemerintahan kerajaan Moghul. Sedangkan bangsa Moghul dan Turki adalah satu rumpun yang pada waktu itu sama-sama menjadi penguasa muslim yang terkenal. Tidak mengherankan jika Syekh Maulana Malik Ibrahim kemudian dikirim kejawa oleh Sultan Muhammad I, karena tidak diragukan kemampuan dan dedikasinya kepada negara dan pengembangan dalam Dokumen Kropak Ferrara disebut-sebut nama Syekh Ibrahim yang disegani ajaran dan fatwanya serta menjadi panutan para wali sesepuh, termasuk Raden Rahmat Sunan Ampel. Kiranya Maulana Malik Ibrahim inilah yang dimaksud dengan Syekh Ibrahim Walisana versi R. Tanoja bahwa Maulana Malik Ibrahim itulah muIa-mula tetalering waliullah, yaitu nenek moyang pertama bagi wali-wali. Beliau datang ke Sembalo Gresik pertama kali pada tahun 1404 M dan wafat pada 10 April 1419 M. Dengan demikian, beliau hidup di Jawa selama 15 tahun. Maulana Malik Ibrahim lebih dikenal penduduk setempat sebagai Kakek Malik Ibrahim memiliki tiga istri, yaituSiti Fathimah binti Ali Nurul Alam Maulana lsrail Raja Champa Dinasti Azmatkhan. Darinya memiliki dua putra yaitu Maulana Moqfaroh dan Syarifah Sarah. Selanjutnya Sharifah Sarah binti Maulana Malik Ibrahim dinikahkan dengan Sayyid Fadhal Ali Murtadha dan melahirkan dua putra, yaitu Haji Utsman Sunan Manyuran dan Utsman Haji Sunan Ngudung. Selanjutnya Sayyid Utsman Haji Sunan Ngudung berputera Sayyid Ja’far Shadiq Sunan Kudus.Siti Maryam binti Syekh Subakir. Darinya memiliki 4 putra, yaitu Abdullah, Ibrahim, Abdul Ghafur, dan Jamilah binti Ibrahim Zainuddin Al-Akbar Asmaraqandi, Darinya memiliki 2 anak, yaitu Abbas dan menggelorakan dakwah Islam di Jawa bagian timur, pada tahun 1419 M, Syekh Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya pun terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik Jawa Timur. Pada batu nisan makam Syekh Maulana Malik lbrahim di kampung Gapura, Gresik Jawa Timur terdapat tulisan beberapa ayat Al-Qur’an, yaitu Surat Ali Imran 185, Ar-Rahman 16-27, At-Taubah 21-22, dan ayat Kursi. Selain itu juga tertulis sebuah kalimat dengan huruf dan bahasa Arab.“Inilah makam aI-marhum aI-maghfur, yang berharap rahmat Tuhan, kebanggaan para pangeran, sendi para sultan dan para menteri, dan penolong para fakir miskin, yang berbahagia lagi syahid, cemerlangnya simbol negara dan agama, Malik Ibrahim yang terkenal dengan Kakek Bantal. Allah meliputinya dengan rahmat-Nya dan keridhaan-Nya, dan dimasukkan ke dalam syurga-Nya. Telah wafat pada hari Senin, 12 Rabi’uI AwwaI tahun 822 H.”Berdasarkan model nisan yang ada pada makam Syekh Maulana Malik Ibrahim, menunjukkan model yang serupa pada makam Sultan Malikus Saleh di Samudera Pasai. Keduanya, menurut sejarawan Moquette, adalah hasil “fabriekswerk” mengacu pada model yang disediakan lebih dahulu oleh pengusahanya yang berada di telah melakukan penelitian dengan membandingkan tulisan ayat-ayat Al-Qur’an maupun kalimat-kalimat dalam bahasa Arab lainnya antara salah satu batu nisan di Cambay Gujarat India dengan batu nisan pada Sultan Malikus Saleh maupun batu nisan makam Syekh Maulana Malik Ibrahim. Hasilnya menunjukkan benar-benar yang tertulis pada batu nisan Maulana Malik Ibrahim tersebut adalah bukti nyata sejarah yang dapat memberi banyak keterangan. Di antaranya adalah sebagai berikutSebagaimana yang telah diteliti Moquette, menunjukkan bahwa model nisan pada makam Maulana Malik Ibrahim adalah serupa dengan nisan batu pada makam Sultan Malikus Saleh di Pasai. Ini menunjukkan eratnya hubungan antara Maulana Malik Ibrahim dengan kekuasaan politik Islam di Pasai. Sekaligus hubungan antara Pasai dengan Campabay, Gujarat India dalam perdagangan dan Maulana Malik Ibrahim tidak menimbulkan konflik dengan penguasa maupun masyarakat. Bahkan disebutkan bahwa Maulana Malik Ibrahim dinyatakan sebagai kebanggaan para pangeran, sendi para sultan dan para menteri, penolong para fakir dan miskin, serta membuat negara menjadi mungkin pembuatan nisan dilakukan beberapa tahun setelahnya, namun nama yang tertulis di atas batu nisan adalah Maulana Malik Ibrahim. Tidak ada istilah syekh maupun sunan yang tercantum dalam tulisan pada batu nisan tersebut. Sebagai perintis awal bagi pesatnya perkembangan Islam di Jawa awal abad 15 M, Maulana Malik Ibrahim lebih layak disebut sebagai sunan atau bahkan sunannya para sunan. Akan tetapi tidak ada istilah sunan yang tertera pada batu nisan makam beliau. Ini menguatkan tesis Prof. Buya Hamka bahwa istilah sunan diciptakan setelah masa wafatnya para wali di Jawa yang tergabung dalam Wali istilah syekh yang dinisbatkan kepada Maulana Malik Ibrahim, telah terdapat dalam dokumen Kropak Ferrara dengan sebutan Syekh lbrahim isinya tentang wejangan Sunan AmpelSunan Ampel Raden Rahmat, adalah putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada tahun 1401 M dan diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim, yakni daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Di antaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak 25 kilometer arah selatan kota Kudus hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V Raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun dan mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan abad ke-15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian diperintahkan untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Ampel menganut Fikih mazhab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” moh main, mioh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon. Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”Sunan Ampel Raden Rahmat adalah salah satu anggota sembilan wali Walisongo, penyebar agama Islam di tanah Jawa. Sama seperti Sunan Maulana Malik Ibrahim, jasa beliau juga sangat besar dalam perkembangan agama Islam di tanah Jawa. Bahkan banyak kalangan yang berpendapat bahwa beliau merupakan bapak para wali. Sebab, dari tangannya lahir para pendakwah Islam kelas wahid di asli Sunan Ampel sendiri adalah Raden Rahmat. Sebutan Sunan merupakan gelar kewaliannya. Sedangkan Ampel atau Ampel Denta dinisbatkan kepada tempat tinggalnya, yaitu Ampel, sebuah daerah yang terletak di sebelah utara Kota Surabaya, Jawa Ampel lahir pada tahun 1401 M. di Champa. Para sejarawan kesulitan untuk menentukan Champa di sini. Sebab belum ada pernyataan tertulis maupun prasasti yang menunjukkan Champa di Malaka atau kerajaan Jawa. Namun,beberapa sejarawan berkeyakinan bahwa Champa adalah sebutan lain dari Jeumpa dalam bahasa Aceh. Oleh karena itu, Champa berada dalam wilayah kerajaan Aceh. Hamka berpendapat sama, ia menyatakan bahwa Champa itu bukan yang di Annam Indo Cina, sesuai Enscyclopaedia Van Nederlandsch Indie, tetapi di Sunan Ampel adalah Sunan Maulana Malik Ibrahim Sunan Gresik, yaitu keturunan Syekh Jamalluddin Jumadil Kubra, seorang Ahlussunnah bermazhab Syafi’i. Syekh Jamalluddin merupakan ulama yang berasal dari Samarqand, Uzbekistan. Adapun ibunya bernama Dewi Chandrawulan, saudara kandung Putri Dwarawati Murdiningrum, ibu Raden Fatah, istri raja Majapahit Prabu Brawijaya Ampel memiliki dua istri, yaitu Dewi Karimah dan Dewi Chandrawati. Dengan istri pertamanya, Dewi Karimah, beliau dikaruniai dua orang anak, yaitu Dewi Murtasih yang menjadi istri Raden Fatah sultan pertama kerajaan Islam Demak Bintoro, dan Dewi Murtasimah yang menjadi permaisuri Raden Paku atau Sunan Giri. Dengan Istri keduanya, Dewi Chandrawati, Sunan Ampel memperoleh lima orang anak, yaitu Siti Syare’at, Siti Mutmainah, Siti Sofiah, Raden Maulana Makdum, Ibrahim atau Sunan Bonang, serta Syarifuddin atau Raden Kosim yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Diponengoro menceritakan bahwa Sunan Ampel memiliki pengaruh yang cukup kuat di istana Majapahit. Meski raja Majapahit menolak masuk Islam, namun Sunan Ampel diberi kebebasan mengajarkan agama Islam pada warga Majapahit, asal tanpa paksaan. Selama tinggal di Majapahit, beliau dinikahkan dengan Nyai Ageng Manila, putri Temanggung Arya Teja, Bupati Tuban. Sejak itu, gelar pangeran dan raden melekat di depan namanya. Beliau diperlakukan sebagai keluarga kraton Majapahit. Beliau pun semakin disegani hari yang ditentukan, berangkatlah rombongan Raden Rahmat ke Ampel. Dari Trowulan, melewati Desa Krian, Wonokromo, berlanjut ke Desa Kembang Kuning. Di sepanjang perjalanan, Raden Rahmat berdakwah. Beliau membagi-bagikan kipas yang terbuat dari akar tumbuhan kepada penduduk. Mereka cukup mengambil kipas itu dengan mengucapkan syahadat. Dan seiring berjalannya waktu, pengikutnya pun bertambah banyak. Sebelum tiba di Ampel, beliau membangun langgar musallah sederhana di Kembang Kuning, delapan kilometer dari daerah Ampel. Langgar tersebut kemudian besar, megah, dan bertahan sampai sekarang, yang diberi nama Masjid Rahmat. Setibanya di Ampel, langkah pertama yang dilakukan Raden Rahmat ialah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah. Kemudian beliau membangun pesantren, mengikuti model Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Adapun format pesantrennya mirip dengan konsep biara yang sudah dikenal masyarakat Rahmat memang dikenal memiliki kepekaan adaptasi. Caranya menanamkan akidah syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Misalnya kata sholat diganti dengan sembahyang asalnya sembah dan hyang. Tempat ibadah tidak diberi nama musallah, melainkan langgar mirip kata sanggar. Penuntut ilmu disebut santari, yang berasal dari shasti yang berarti orang yang tahu buku suci agama Hindu. Siapa pun, bangsawan maupun rakyat jelata, bisa nyantri kepada Raden Rahmat. Meski bermadzhab Hanafi, namun beliau sangat toleran pada madzhab yang lain. Santrinya diberi kebebasan dalam bermadzhab. Dengan cara pandang netral itu, pendidikan di Ampel mendapatkan perhatian. Dari sinilah sebutan Sunan Ampel mulai masyhur. Beliau meninggal pada tahun 1481 di Demak, dan dimakamkan di Ampel, salah satu cara berdakwah Sunan Ampel adalah falsafah Moh Limo. Falsafah tersebut adalahMoh Main tidak mau berjudi.Moh Ngombe tidak mau mabuk karena minum minuman arak.Moh Maling tidak mau mencuri.Moh Madat tidak mau merokok atau menggunakan narkotika.Moh Madon tidak mau bermain dengan perempuan yang bukan istrinya.3. Sunan BonangSunan Bonang. adalah anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat Sunan Bonang berintikan pada filsafat cinta'isyq. Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif makrifat dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah “Suluk Wijil” yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr wafat pada 899. Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental alam malakut. Tembang “Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Sunan DrajatSemasa muda ia dikenal sebagai Raden Qasim, Qosim, atawa Kasim. Masih banyak nama lain yang disandangnya di berbagai naskah kuno. Misalnya Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, Maulana Hasyim, Syekh Masakeh, Pangeran Syarifuddin, Pangeran Kadrajat, dan Masaikh Munat. Dia adalah putra Sunan Ampel dari perkawinan dengan Nyi Ageng Manila, alias Dewi Condrowati. Empat putra Sunan Ampel lainnya adalah Sunan Bonang, Siti Muntosiyah, yang dinikahi Sunan Giri, Nyi Ageng Maloka, yang diperistri Raden Patah, dan seorang putri yang disunting Sunan Kalijaga. Akan halnya Sunan Drajat sendiri, tak banyak naskah yang mengungkapkan diceritakan, Raden Qasim menghabiskan masa kanak dan remajanya di kampung halamannya di Ampeldenta, Surabaya. Setelah dewasa, ia diperintahkan ayahnya, Sunan Ampel, untuk berdakwah di pesisir barat Gresik. Perjalanan ke Gresik ini merangkumkan sebuah cerita, yang kelak berkembang menjadi legenda. Syahdan, berlayarlah Raden Qasim dari Surabaya, dengan menumpang biduk nelayan. Di tengah perjalanan, perahunya terseret badai, dan pecah dihantam ombak di daerah Lamongan, sebelah barat Gresik. Raden Qasim selamat dengan berpegangan pada dayung perahu. Kemudian, ia ditolong ikan cucut dan ikan talang –ada juga yang menyebut ikan menunggang kedua ikan itu, Raden Qasim berhasil mendarat di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Kampung Jelak, Banjarwati. Menurut tarikh, persitiwa ini terjadi pada sekitar 1485 Masehi. Di sana, Raden Qasim disambut baik oleh tetua kampung bernama Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar. Konon, kedua tokoh itu sudah diislamkan oleh pendakwah asal Surabaya, yang juga terdampar di sana beberapa tahun sebelumnya. Raden Qasim kemudian menetap di Jelak, dan menikah dengan Kemuning, putri Mbah Mayang Madu. Di Jelak, Raden Qasim mendirikan sebuah surau, dan akhirnya menjadi pesantren tempat mengaji ratusan yang semula cuma dusun kecil dan terpencil, lambat laun berkembang menjadi kampung besar yang ramai. Namanya berubah menjadi Banjaranyar. Selang tiga tahun, Raden Qasim pindah ke selatan, sekitar satu kilometer dari Jelak, ke tempat yang lebih tinggi dan terbebas dari banjir pada musim hujan. Tempat itu dinamai Desa Drajat. Namun, Raden Qasim, yang mulai dipanggil Sunan Drajat oleh para pengikutnya, masih menganggap tempat itu belum strategis sebagai pusat dakwah Islam. Sunan lantas diberi izin oleh Sultan Demak, penguasa Lamongan kala itu, untuk membuka lahan baru di daerah perbukitan di selatan. Lahan berupa hutan belantara itu dikenal penduduk sebagai daerah sahibul kisah, banyak makhluk halus yang marah akibat pembukaan lahan itu. Mereka meneror penduduk pada malam hari, dan menyebarkan penyakit. Namun, berkat kesaktiannya, Sunan Drajat mampu mengatasi. Setelah pembukaan lahan rampung, Sunan Drajat bersama para pengikutnya membangun permukiman baru, seluas sekitar sembilan hektare. Atas petunjuk Sunan Giri, lewat mimpi, Sunan Drajat menempati sisi perbukitan selatan, yang kini menjadi kompleks pemakaman, dan dinamai Ndalem Duwur. Sunan mendirikan masjid agak jauh di barat tempat tinggalnya. Masjid itulah yang menjadi tempat berdakwah menyampaikan ajaran Islam kepada menghabiskan sisa hidupnya di Ndalem Duwur, hingga wafat pada 1522. Di tempat itu kini dibangun sebuah museum tempat menyimpan barang-barang peninggalan Sunan Drajat –termasuk dayung perahu yang dulu pernah menyelamatkannya. Sedangkan lahan bekas tempat tinggal Sunan kini dibiarkan kosong, dan dikeramatkan. Sunan Drajat terkenal akan kearifan dan kedermawanannya. Ia menurunkan kepada para pengikutnya kaidah tak saling menyakiti, baik melalui perkataan maupun perbuatan. ”Bapang den simpangi, ana catur mungkur,” demikian petuahnya. Maksudnya jangan mendengarkan pembicaraan yang menjelek-jelekkan orang lain, apalagi melakukan perbuatan memperkenalkan Islam melalui konsep dakwah bil-hikmah, dengan cara-cara bijak, tanpa memaksa. Dalam menyampaikan ajarannya, Sunan menempuh lima cara. Pertama, lewat pengajian secara langsung di masjid atau langgar. Kedua, melalui penyelenggaraan pendidikan di pesantren. Selanjutnya, memberi fatwa atau petuah dalam menyelesaikan suatu masalah. Cara keempat, melalui kesenian tradisional. Sunan Drajat kerap berdakwah lewat tembang pangkur dengan iringan gending. Terakhir, ia juga menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran pokok ajaran Sunan Drajat adalah Paring teken marang kang kalunyon lan wuta; paring pangan marang kang kaliren; paring sandang marang kang kawudan; paring payung kang kodanan. Artinya berikan tongkat kepada orang buta; berikan makan kepada yang kelaparan; berikan pakaian kepada yang telanjang; dan berikan payung kepada yang kehujanan. Sunan Drajat sangat memperhatikan masyarakatnya. Ia kerap berjalan mengitari perkampungan pada malam hari. Penduduk merasa aman dan terlindungi dari gangguan makhluk halus yang, konon, merajalela selama dan setelah pembukaan hutan. Usai salat asar, Sunan juga berkeliling kampung sambil berzikir, mengingatkan penduduk untuk melaksanakan salat magrib.”Berhentilah bekerja, jangan lupa salat,” katanya dengan nada membujuk. Ia selalu menelateni warga yang sakit, dengan mengobatinya menggunakan ramuan tradisional, dan doa. Sebagaimana para wali yang lain, Sunan Drajat terkenal dengan kesaktiannya. Sumur Lengsanga di kawasan Sumenggah, misalnya, diciptakan Sunan ketika ia merasa kelelahan dalam suatu perjalanan. Ketika itu, Sunan meminta pengikutnya mencabut wilus, sejenis umbi hutan. Ketika Sunan kehausan, ia berdoa. Maka, dari sembilan lubang bekas umbi itu memancar air bening –yang kemudian menjadi sumur abadi. Dalam beberapa naskah, Sunan Drajat disebut-sebut menikahi tiga perempuan. Setelah menikah dengan Kemuning, ketika menetap di Desa Drajat, Sunan mengawini Retnayu Condrosekar, putri Adipati Kediri, Raden itu diperkirakan terjadi pada 1465 Masehi. Menurut Babad Tjerbon, istri pertama Sunan Drajat adalah Dewi Sufiyah, putri Sunan Gunung Jati. Alkisah, sebelum sampai di Lamongan, Raden Qasim sempat dikirim ayahnya berguru mengaji kepada Sunan Gunung Jati. Padahal, Syarif Hidayatullah itu bekas murid Sunan Ampel. Di kalangan ulama di Pulau Jawa, bahkan hingga kini, memang ada tradisi ’saling memuridkan”. Dalam Babad Tjerbon diceritakan, setelah menikahi Dewi Sufiyah, Raden Qasim tinggal di Kadrajat. Ia pun biasa dipanggil dengan sebutan Pangeran Kadrajat, atau Pangeran Drajat. Ada juga yang menyebutnya Syekh padepokan Pangeran Drajat kini menjadi kompleks perkuburan, lengkap dengan cungkup makam petilasan, terletak di Kelurahan Drajat, Kecamatan Kesambi. Di sana dibangun sebuah masjid besar yang diberi nama Masjid Nur Drajat. Naskah Badu Wanar dan Naskah Drajat mengisahkan bahwa dari pernikahannya dengan Dewi Sufiyah, Sunan Drajat dikaruniai tiga putra. Anak tertua bernama Pangeran Rekyana, atau Pangeran Tranggana. Kedua Pangeran Sandi, dan anak ketiga Dewi Wuryan. Ada pula kisah yang menyebutkan bahwa Sunan Drajat pernah menikah dengan Nyai Manten di Cirebon, dan dikaruniai empat putra. Namun, kisah ini agak kabur, tanpa meninggalkan jejak yang jelas, apakah Sunan Drajat datang di Jelak setelah berkeluarga atau belum. Namun, kitab Wali Sanga babadipun Para Wali mencatat ”Duk samana anglaksanani, mangkat sakulawarga….” Sewaktu diperintah Sunan Ampel, Raden Qasim konon berangkat ke Gresik sekeluarga. Jika benar, di mana keluarganya ketika perahu nelayan itu pecah? Para ahli sejarah masih mengais-ngais naskah kuno untuk menjawabnya. Beliau wafat dan dimakamkan di desa Drajad, kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Tak jauh dari makam beliau telah dibangun Museum yang menyimpan beberapa peninggalan di jaman Wali Sanga. Khususnya peninggalan beliau di bidang Sunan KudusNama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah adik Sunan Bonang, anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang. Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya riwayat beliau juga termasuk salah seorang pujangga yang berinisiatif mengarang cerita-cerita pendek yang berisi filsafat serta berjiwa agama. diantara buah ciptaannya yang terkenal, ialah Gending Maskumambang dan Mijil. Adapun Imam Ja’far Sodiq yang terkenal di Iran itu tidak saja sebagai seorang imam dari kaum Syi’ah, akan tetapi juga sebagai seorang yang terkemuka di dalam soal-soal hukum maupun ilmu pengetahuan demikian, maka menurut hemat kita Ja’far Sodiq yang terkenal di Iran sebagai seorang wali, seorang imam dari golongan Syi’ah yang amat dipuja serta dihormati itu, kiranya bukanlah Ja’far Sodiq seorang wali yang menjadi salah seorang anggota dari kesembilan wali di Jawa, yang makamnya terdapat di kota Kudus, adapun Ja’far Sodiq yang kemudian ini, terkenal dengan sebutan Sunan Kudus. Disamping bertindak sebagai guru agama Islam. juga sebagai salah seorang yang kuat syariatnya, Senan Kudus-pun menjadi senopati dari kerajaan Islam di lain yang termasuk bekas peninggalan beliau adalah Masjid Raya di-Kudus, yang kemudian dikenal dengan sebutan masjid menara Kudus. Oleh karena di halaman masjid tersebut terdapat sebuah menara kuno yang indah. Mengenai asal-usulnya nama Kudus menurut dongeng legenda yang hidup dikalangan masyarakat setempat ialah, bahwa dahulu Sunan Kudus pernah pergi naik haji sambil menuntut ilmu di tanah arab, kemudian beliaupun mengajar pula di sana. pada suatu masa, di tanah arab konon berjangkit suatu wabah penyakit yang membahayakan, penyakit mana kemudian menjadi reda, berkat jasa sunan kudus., oleh karena itu, seorang amir disana berkenan untuk memberikan suatu hadian kepada beliau. akan tetapi beliau menolak,hanya kenang-kenangan beliau meminta sebuah batu. Batu tersebut katanya berasal dari kota Baitul Makdis, atau Jeruzalem, maka sebagai peringatan kepada kota dimana Ja’far Sodiq hidup serta bertempat tinggal, kemudian diberikan nama Kudus. Bahkan menara yang terdapat di depan masjid itupun juga menjadi terkenal dengan sebutan menara mengenai nama Kudus atau Al Kudus ini di dalam buku Encyclopedia Islam antara lain disebutkan “Al kuds the usual arabic nama for Jeruzalem in later times, the olders writers call it commonly bait al makdis according to some mukaddas, with really meant the temple of solomon, a translation of the hebrew bethamikdath, but itu because applied to the whole town.” Mengenai perjuangan Sunan Kudus dalam menyebarkan agama Islam tidak berbeda dengan para wali lainnya, yaitu senantiasa dipakai jalan kebijaksanaan, dengan siasat dan taktik yang demikian itu, rakyat dapat diajak memeluk Agama Sunan GiriDikenal dengan nama Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden Ainul Yaqin dan Joko Samudra adalah nama salah seorang Wali Songo yang berkedudukan di desa Giri, Kebomas, Gresik, Jawa Timur. Ia lahir di Blambangan Banyuwangi pada tahun Saka Candra Sengkala “Jalmo orek werdaning ratu” 1365 Saka. dan wafat pada tahun Saka Candra Sengkala “Sayu Sirno Sucining Sukmo” 1428 Saka di desa Giri, Kebomas, Giri juga merupakan keturunan Rasulullah SAW; yaitu melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rummi, Ahmad Al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali’ Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik Ahmad Khan, Abdullah al-Azhamat Khan, Ahmad Syah Jalal Jalaluddin Khan, Jamaluddin Akbar al-Husaini Maulana Akbar, Maulana Ishaq, dan Ainul Yaqin Sunan Giri. Umumnya pendapat tersebut adalah berdasarkan riwayat pesantren-pesantren Jawa Timur, dan catatan nasab Sa’adah BaAlawi Giri merupakan buah pernikahan dari Maulana Ishaq, seorang mubaligh Islam dari Asia Tengah, dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit. Namun kelahiran Sunan Giri ini dianggap rakyat Blambangan sebagai pembawa kutukan berupa wabah penyakit di kerajaan Blambangan. Kelahiran Sunan Giri disambut Prabu Menak Sembuyu dengan membuatkan peti terbuat dari besi untuk tempat bayi dan memerintahkan kepada para pengawal kerajaan untuk menghanyutkannya ke itupun tak lama terdengar oleh Dewi Sekardaru. Dewi Sekardadu berlari mengejar bayi yang barusaja dilahirkannya. Siang dan malam menyusuri pantai dengan tidak memikirkan lagi akan nasib dirinya. Dewi Sekardadupun meninggal dalam besi berisi bayi itu terombang-ambing ombak laut terbawa hinga ke tengah laut. Peti itu bercahaya berkilauan laksana kapal kecil di tengah laut. Tak ayal cahaya itu terlihat oleh sekelompok awak kapal pelaut yang hendak berdagang ke pulau Bali. Awak kapal itu kemudian menghampiri, mengambil dan membukanya peti yang bersinar itu. Awak kapal terkejut setelah tahu bahwa isi dari peti itu adalah bayi laki-laki yang molek dan bercahaya. Awak kapalpun memutar haluan kembali pulang ke Gresik untuk memberikan temuannya itu kepada Nyai Gede Pinatih seorang saudagar perempuan di Gresik sebagai pemilik kapal. Nyai Gede Pinatih keheranan dan sangat menyukai bayi itu dan mengangkanya sebagai anak dengan memberikan nama Joko mulai remaja diusianya yang 12 tahun, Joko Samudra dibawa ibunya ke Surabaya untuk berguru ilmu agama kepada Raden Rahmat Sunan Ampel atas permintaannya sendiri. Tak berapa lama setelah mengajarnya, Sunan Ampel mengetahui identitas sebenarnya dari murid kesayangannya itu. Sunan Ampel mengirimnya beserta Makdhum Ibrahim Sunan Bonang, untuk mendalami ajaran Islam di Pasai sebelum menunaikan keinginannya untuk melaksanakan ibadah Haji. Mereka diterima oleh Maulana Ishaq yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Di sinilah, Joko Samudra mengetahui cerita mengenai jalan hidup masa tiga tahun berguru kepada ayahnya, Raden Paku atau lebih dikenal dengan Raden Ainul Yaqin diperintahkan gurunya yang tak lain adalah ayahnya sendiri itu untuk kembali ke Jawa untuk mengembangkan ajaran islam di tanah Jawa. Dengan berbekal segumpal tanah yang diberikan oleh ayahandanya sebagai contoh tempat yang diinginkannya, Raden Ainul Yaqin berkelana untuk mencari dimana letak tanah yang sama dengan tanah yang diberikan oleh ayahanya. Dengan bertafakkur dan meminta pertolongan serta petunjuk dari Allah SWT. maka petunjuk itupun datang dengan adanya bukit yang bercahaya. Maka didatangilah bukit itu dan di lihat kesamaanya dan ternyata memang benar-benar sama dengan tanah yang diberikan oleh ayahnya. Perbukitan itulah yang kemudian ditempati untuk mendirikan sebuah pesantren Giri di sebuah perbukitan di desa Sidomukti, Kebomas, Gresik pada tahun Saka nuju tahun Jawi Sinong milir 1403 Saka. Pesantren ini merupakan pondok pesantren pertama yang ada di kota Gresik. Dalam bahasa Jawa, giri berarti gunung. Sejak itulah, ia dikenal masyarakat dengan sebutan Sunan Giri kemudian menjadi terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa, bahkan pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sumbawa, Sumba, Flores, Ternate, Sulawesi dan Maluku. Karena pengaruhnya yang luas saat itu Raden Paku mendapat julukan sebagai Raja dari Bukit Giri. Pengaruh pesantren Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan yang disebut Giri. Kerajaan Giri Kedaton menguasai daerah Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi sampai akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung. Terdapat beberapa karya seni tradisonal. Jawa yang sering dianggap berhubungkan dengan Sunan Giri, di antaranya adalah permainan-permainan anak seperti Jelungan, Jor, Gula-gantiLir-ilir dan Cublak Suweng; serta beberapa gending lagu instrumental Jawa seperti Asmaradana dan Sunan KalijagaNama aslinya adalah Joko Said yang dilahirkan sekitar tahun 1450 M. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban. Arya Wilatikta ini adalah keturunan dari pemberontak legendaris Majapahit, Ronggolawe. Riwayat masyhur mengatakan bahwa Adipati Arya Wilatikta sudah memeluk Islam sejak sebelum lahirnya Joko Said. Namun sebagai Muslim, ia dikenal kejam dan sangat taklid kepada pemerintahan pusat Majapahit yang menganut Agama Hindu. Ia menetapkan pajak tinggi kepada rakyat. Joko Said muda yang tidak setuju pada segala kebijakan Ayahnya sebagai Adipati sering membangkang pada kebijakan-kebijakan Joko Said kepada ayahnya mencapai puncaknya saat ia membongkar lumbung kadipaten dan membagi-bagikan padi dari dalam lumbung kepada rakyat Tuban yang saat itu dalam keadaan kelaparan akibat kemarau tindakannya itu, Ayahnya kemudian menggelar sidang’ untuk mengadili Joko Said dan menanyakan alasan perbuatannya. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Joko Said untuk mengatakan pada ayahnya bahwa, karena alasan ajaran agama, ia sangat menentang kebijakan ayahnya untuk menumpuk makanan di dalam lumbung sementara rakyatnya hidup dalam kemiskinan dan tidak dapat menerima alasannya ini karena menganggap Joko Said ingin mengguruinya dalam masalah agama. Karena itu, Ayahnya kemudian mengusirnya keluar dari istana kadipaten seraya mengatakan bahwa ia baru boleh pulang jika sudah mampu menggetarkan seisi Tuban dengan bacaan ayat-ayat suci Al Qur’ dari menggetarkan seisi Tuban’ di sini ialah bilamana ia sudah memiliki banyak ilmu agama dan dikenal luas masyarakat karena masyhur kemudian menceritakan bahwa setelah diusir dari istana kadipaten, Joko Said berubah menjadi seorang perampok yang terkenal dan ditakuti di kawasan Jawa Timur. Sebagai Perampok, Joko Said selalu memilih’ korbannya dengan seksama. Ia hanya merampok orang kaya yang tak mau mengeluarkan zakat dan hasil rampokannya itu, sebagian besarnya selalu ia bagi-bagikan kepada orang miskin. Kisah ini mungkin mirip dengan cerita Robin Hood di Inggris. Namun itulah riwayat masyhur tentang beliau. Diperkirakan saat menjadi perampok inilah, ia diberi gelar Lokajaya’ artinya kurang lebih Perampok Budiman’.Semuanya berubah saat Lokajaya alias Joko Said bertemu dengan seorang ulama , Syekh Maulana Makhdum Ibrahim alias Sunan Bonang. Sunan Bonang inilah yang kemudian mernyadarkannya bahwa perbuatan baik tak dapat diawali dengan perbuatan buruk –sesuatu yang haq tak dapat dicampuradukkan dengan sesuatu yang batil sehingga Joko Said alias Lokajaya bertobat dan berhenti menjadi Said kemudian berguru kepada Sunan Bonang hingga akhirnya dikenal sebagai ulama dengan gelar Sunan Kalijaga’.Pertanyaan ini masih menjadi misteri dan bahan silang pendapat di antara para pakar sejarah hingga hari ini. Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung dihubungkan dengan kebiasaan wong Cerbon untuk menggelari seseorang dengan daerah asalnya –seperti gelar Sunan Gunung Jati untuk Syekh Syarif Hidayatullah, karena beliau tinggal di kaki Gunung menunjukan bahwa ternyata tidak ada kali’ di sekitar dusun Kalijaga sebagai ciri khas dusun itu. Padahal, tempat-tempat di Jawa umumnya dinamai dengan sesuatu yang menjadi ciri khas tempat itu. Misalnya nama Cirebon yang disebabkan banyaknya rebon udang, atau nama Pekalongan karena banyaknya kalong Kelelawar.Logikanya, nama Dusun Kalijaga’ itu justru muncul setelah Sunan Kalijaga sendiri tinggal di dusun itu. Karena itu, klaim Masyarakat Cirebon ini kurang dapat lain datang dari kalangan Jawa Mistik Kejawen. Mereka mengaitkan nama ini dengan kesukaan wali ini berendam di sungai kali sehingga nampak seperti orang yang sedang “jaga kali”. Riwayat Kejawen lainnya menyebut nama ini muncul karena Joko Said pernah disuruh bertapa di tepi kali oleh Sunan Bonang selama sepuluh yang terakhir ini yang paling populer. Pendapat Ini bahkan diangkat dalam film Sunan Kalijaga’ dan Walisongo’ pada tahun 80-an. Saya sendiri kurang sepaham dengan kedua pendapat sintaksis, dalam tata bahasa-bahasa di Pulau Jawa Sunda dan Jawa dan segala dialeknya, bila ada frase yang menempatkan kata benda di depan kata kerja, itu berarti bahwa kata benda tersebut berlaku sebagai subjek yang menjadi pelaku dari kata kerja yang mengikutinya. Sehingga bila ada frase kali jaga’ atau kali jogo’ berarti ada sebuah kali yang menjaga sesuatu’.Ini tentu sangat janggal dan tidak masuk akal. Bila benar bahwa nama itu diperoleh dari kebiasaan Sang Sunan kungkum di kali atau karena beliau pernah menjaga sebuah kali selama sepuluh tahun non-stop seperti dalam film, maka seharusnya namanya ialah “Sunan Jogo Kali” atau “Sunan Jaga Kali”.Kemudian secara logika, silakan anda pikirkan masak-masak. Mungkinkah seorang da’i menghabiskan waktu dengan kungkum-kungkum di sungai sepanjang hari? Tentu saja tidak. Sebagai da’i yang mencintai Islam dan Syi’ar-nya, tentu ada banyak hal berguna yang dapat beliau Kejawen bahwa beliau bertapa selama sepuluh tahun non-stop di pinggir kali juga merupakan riwayat yang tidak masuk akal. Bagaimana bisa seorang ulama saleh terus-menerus bertapa tanpa melaksanakan shalat, puasa, bahkan tanpa makan dan minum? Karena itu, dalam pendapat saya, kedua riwayat itu ialah riwayat batil dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara yang paling masuk akal ialah bahwa sebenarnya nama kalijaga’ berasal dari bahasa Arab “Qadli’ dan nama aslinya sendiri, Joko Said’, jadi frase asalnya ialah Qadli Joko Said’ Artinya Hakim Joko Said. Sejarah mencatat bahwa saat Wilayah Perwalian Demak didirikan tahun 1478, beliau diserahi tugas sebagai Qadli hakim di Demak oleh Wali Demak saat itu, Sunan Jawa memiliki riwayat kuat dalam hal penyimpangan’ pelafalan kata-kata Arab, misalnya istilah Sekaten dari Syahadatain’, Kalimosodo dari Kalimah Syahadah’, Mulud dari Maulid, Suro dari Syura’, Dulkangidah dari Dzulqaidah, dan masih banyak istilah lainnya. Maka tak aneh bila frase “Qadli Joko” kemudian tersimpangkan menjadi Kalijogo’ atau Kalijaga’.Posisi Qadli yang dijabat oleh Kalijaga alias joko Said ialah bukti bahwa Demak merupakan sebuah kawasan pemerintahan yang menjalankan Syariah Islam. Ini diperkuat oleh kedudukan Sunan Giri sebagai Wali di Demak. Istilah Qadli’ dan Wali’ merupakan nama-nama jabatan di dalam Negara Islam. Dari sini sajasudah jelas, siapa Sunan Kalijaga sebenarnya; ia adalahseorang Qadli, bukan praktisi masyhur mengisahkan bahwa masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Ini berarti bahwa beliau mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit pada 1478, Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon, Kesultanan Banten, bahkan hingga Kerajaan Pajang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram. Bila riwayat ini benar, maka kehidupan Sunan Kalijaga adalah sebuah masa kehidupan yang dan babad-babad tua ternyata hanya menyebut-nyebut nama beliau hingga zaman Kesultanan Cirebon saja, yakni hingga saat beliau bermukim di dusun Kalijaga. Dalam kisah-kisah pendirian Kerajaan Pajang oleh Jaka Tingkir dan Kerajaan Mataram oleh Panembahan Senopati, namanya tak lagi ialah, bila saat itu beliau masih hidup, tentu beliau akan dilibatkan dalam masalah imamah di Pulau Jawa karena pengaruhnya yang luas di tengah masyarakat menunjukan bahwa makamnya berada di Kadilangu, dekat Demak, bukan di Pajang atau di kawasan Mataram Yogyakarta dan sekitarnya –tempat-tempat di mana Kejawen tumbuh subur. Perkiraan saya, beliau sudah wafat saat Demak masih yang batil banyak menceritakan kisah-kisah aneh tentang Sunan Kalijaga –selain kisah pertapaan sepuluh tahun di tepi sungai. Beberapa kisah aneh itu antara lain, bahwa beliau bisa terbang, bisa menurunkan hujan dengan hentakan kaki, mengurung petir bernama Ki Ageng Selo di dalam Masjid Demak dan kisah-kisah lain yang bila kita pikirkan dengan akal sehat non intelek tidak mungkin bisa masuk ke dalam otak manusia. Kisah-kisah aneh macam itu hanya bisa dipercaya oleh orang gila yang gemar Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dan berbau Hindu-Budha serta Kejawen. Padahal fakta tentang kehidupan Sunan Kalijaga adalah Da’wah dan Syi’ar Islam yang indah. Buktinya sangat banyak sekali. Sunan Kalijaga adalah perancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung “tatal” pecahan kayu yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi peninggalan Sunan Kalijaga. Mana mungkin seorang kejawen ahli mistik mau-maunya mendirikan Masjid yang jelas-jelas merupakan tempat peribadatan keagamaan Sunan Kalijaga adalah salafi –bukan sufi-panteistik ala Kejawen yang ber-motto-kan Manunggaling Kawula Gusti’. Ini terbukti dari sikap tegas beliau yang ikut berada dalam barisan Sunan Giri saat terjadi sengketa dalam masalah kekafiran’ Syekh Siti Jenar dengan ajarannya bahwa manusia dan Tuhan bersatu dalam dzat yang dan kebudayaan hanyalah sarana yang dipilih Sunan Kalijaga dalam berdakwah. Beliau memang sangat toleran pada budaya lokal. Namun beliau pun punya sikap tegas dalam masalah akidah. Selama budaya masih bersifat transitif dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, beliau beber kuno ala Jawa yang mencitrakan gambar manusia secara detail dirubahnya menjadi wayang kulit yang samar dan tidak terlalu mirip dengan citra manusia, karena pengetahuannya bahwa menggambar dan mencitrakan sesuatu yang mirip manusia dalam ajaran Islam adalah haram yang berkembang mengisahkan bahwa beliau sering bepergian keluar-masuk kampung hanya untuk menggelar pertunjukan wayang kulit dengan beliau sendiri sebagai dalangnya. Semua yang menyaksikan pertunjukan wayangnya tidak dimintai bayaran, hanya diminta mengucap dua kalimah syahadat. Beliau berpendapat bahwa masyarakat harus didekati secara berislam dulu dengan syahadat selanjutnya berkembang dalam segi-segi ibadah dan pengetahuan Islamnya. Sunan Kalijaga berkeyakinan bahwa bila Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Lakon-lakon yang dibawakan Sunan Kalijaga dalam pagelaran-pagelarannya bukan lakon-lakon Hindu macam Mahabharata, Ramayana, dan lainnya. Walau tokoh-tokoh yang digunakannya sama Pandawa, Kurawa, dll..Beliau menggubah sendiri lakon-lakonnya, misalnya Layang Kalimasada, Lakon Petruk Jadi Raja yang semuanya memiliki ruh Islam yang kuat. Karakter-karakter wayang yang dibawakannya pun beliau tambah dengan karakter-karakter baru yang memiliki nafas Islam. Misalnya, karakter Punakawan yang terdiri atas Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng adalah karakter yang sarat dengan muatan Istilah dalam Pewayangan merujuk pada Bahasa Arab Istilah Dalang’ berasal dari bahasa Arab, Dalla’ yang artinya menunjukkan. Dalam hal ini, seorang Dalang’ adalah seseorang yang menunjukkan kebenaran kepada para penonton wayang’. Mandalla’alal Khari Kafa’ilihi Barangsiapa menunjukan jalan kebenaran atau kebajikan kepada orang lain, pahalanya sama dengan pelaku kebajikan itu sendiri –Sahih BukhariKarakter Semar’ diambil dari bahasa Arab, Simaar’ yang artinya Paku. Dalam hal ini, seorang Muslim memiliki pendirian dan iman yang kokoh bagai paku yang tertancap, Petruk’ diambil dari bahasa Arab, Fat-ruuk’ yang artinya tingggalkan’. Maksudnya, seorang Muslim meninggalkan segala penyembahan kepada selain Allah, Fatruuk-kuluu man Gareng’ diambil dari bahasa Arab, Qariin’ yang artinya teman’. Maksudnya, seorang Muslim selalu berusaha mencari teman sebanyak-banyaknya untuk diajak ke arah kebaikan, Nalaa Bagong’ diambil dari bahasa Arab, Baghaa’ yang artinya berontak’. Maksudnya, seorang Muslim selalu berontak saat melihat ukir, wayang, gamelan, baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, serta seni suara suluk yang diciptakannya merupakan sarana dakwah semata, bukan budaya yang perlu ditradisikan hingga berkarat dalam kalbu dan dinilai sebagai ibadah mahdhah. Beliau memandang semua itu sebagai metode semata, metode dakwah yang sangat efektif pada filosofis, ini sama dengan da’wah Rasulullah SAW yang mengandalkan keindahan syair Al Qur’an sebagai metode da’wah yang efektif dalam menaklukkan hati suku-suku Arab yang gemar dapat disangkal bahwa kebiasaan keluar-masuk kampung dan memberikan hiburan gratis pada rakyat, melalui berbagai pertunjukan seni, pun memiliki nilai filosofi yang sama dengan kegiatan yang biasa dilakukan Khalifah Umar ibn Khattab yang suka keluar-masuk perkampungan untuk memantau umat dan memberikan hiburan langsung kepada rakyat yang ini memperkuat bukti bahwa Sunan Kalijaga adalah pemimpin umat yang memiliki karakter, ciri, dan sifat kepemimpinan yang biasa dimiliki para pemimpin Islam sejati, bukan ahli Sunan MuriaSunan Muria Maulana Raden Umar Said putera Raden Mas Said. Bergelar Sunan Muria karena dimakamkan di dataran tinggi Muria, Jawa tengah. Ia putra Dewi Saroh, adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan Sang Ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak 1518-1530. Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Maulana Raden Umar Said berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Muria salah satu Wali Songo yang dilahirkan kira-kira pada abad 15. Nama aslinya ialah Raden Umar Said atau dikenal dengan sebutan Raden Said. Sedang nama kecil darinya, Raden Prawoto. Ia putra dari Sunan Kalijaga dari Dewi Sarah binti Maulana Ishak. Ia tiga bersaudara dengan Dewi Rakayuh, dan Dewi Sofiah. Maulana Raden Umar Said merupakan cucu dari Maulana Ishak, dan pamannya Sunan ia menikah dengan Dewi Sujinah, yang tidak lain putri dari Sunan Ngudung. Kemudian ia menjadi adik ipar Sunan versi utama dari dua pendapat yang menyatakan Sunan Muria putra dari Sunan Kalijaga. Seperti yang diungkapan oleh Umar Hasyim dalam buku Sunan Muria Antara Fakta dan Legenda yang diterbitkan Menara Kudus pada tahun 1985. Sedang dalam versi kedua, merupakan buku berjudul Pustoko Darah Agung yang ditulis oleh R. Darmowasito, yang menyatakan bahwa Sunan Muria putera dari Raden Usman Haji atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ngudung. R. Darmowasito menyatakan kalau Sunan Ngudung yang menikah dengan Dewi Sarifah melahirkan empat putra, di antaranya Raden Umar Said, Sunan Giri II, Raden Amir Haji atau Sunan Kudus,serta Sunan Giri mempunyai peran besar dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Penyebaran Islam yang dilakukan oleh Sunan Muria tidak jauh berbeda dengan Sunan Kalijaga yaitu mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah. Ia berdakwah pada rakyat jelata di daerah Colo, tempat beliau berdakwah. Namun tempat tinggal beliau terletak di puncak Gunung Muria. Ia merasa nyaman di sana, karena ia bergaul bersama rakyat jelata, seraya mengajarkan bercocok tanam, berdagang dan lewat kesenian itu sebagai media dakwah ia menghasilkan sebuah tembang Sinom dan Kinanti. Adapun wilayah yang menjadi sasaran dakwahnya meliputi, Tayu, Juwana, Kudus, dan Lereng Gunung muria. Kemudian beliau dikenal dengan sebutan Muria, karena letaknya yang berada di Lereng Gunung Muria. Dengan tembang-tembang itu ia mengajak umat agar mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Selain alasan tinggal di sana, ia merasa senang tinggal dengan masyarakat sekitar daripada ia berdakwah pada kalangan kaum yang ditampakkan Sunan Muria tidak lagi seperti kedudukannya sebagai wali, tetapi ia berbaur dengan masyarakat. Dengan itu ia dapat mengetahui keluhan masyarakat, kebutuhan. Hal inilah yang ia pelajari dari ayahnya Sunan Kalijaga. Gaya-gaya atau cara berdakwah Sunan Kalijaga tidak ia hapus, ia hanya melakukan beberapa pembenahan yang sekiranya itu penting untuk hal yang harus diketahui, kenapa Sunan Muria lebih suka berdakwa pada kalangan bawah, tidak lain karena ia mengikuti jejak sang ayah. Pada ajaran Walisongo ada dua aliran yang memiliki karakter berbeda dalam berdakwah, antaraGolongan pertama, yaitu Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati. Golongan ini lebih terkesan moderat dalam menjalankan dakwahnya, lunak dan mereka memanfaatkan kebudayaan dan tradisi yang pernah kedua, yaitu Sunan Giri, Sunan Ampel dan Sunan Derajat. Golongan ini lebih kepada metode dakwah yang bersumber pada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana yang menjadi pedoman umat Islam pada pertama disebut sebagai aliran Tuban atau Abangan. Sedang golongan kedua disebut aliran Putihan atau Santri. Dalam prakteknya, golongan kedua, lebih suka mendekati kaum ningrat dan kaum hartawan. Akan tetapi golongan kedua, lebih suka mendekati rakyat dikenal sebagai pendakwah yang lues, Sunan Muria mempunya kesaktian yang luar biasa. Ini dibuktikan fisik kuat karena ia sering naik-turun Gunung Muria yang memiliki ketinggian 750 meter. Setiap hari ia mendaki dan turun untuk menyebarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar. Andai fisiknya lemah, tentu ia tidak akan sampai bertahun-tahun bisa melakukan yang demikian. Sampai akhir hayatnya ia terus melakukan dakwahnya setiap hari. Bahkan, Sunan Muria dikenal sebagai soerang yang menjadi penengah ketika ada persoalan, utama ketika terjadi konflik internal di Kesultanan Demak, pada tahun 1518-1530. Seperti ayahnya, Sunan Kalijaga,ia terkenal pribadi yang mampu dalam memecahkan berbagai persoalan, betapapun hal itu sangat rumit. Solusinya dapat diterima oleh kelompok yang sedang dalih tersebut, Sunan Muria salah satu Wali Songo yang terkenal dengan Ia seorang yang pemberani. Ia seorang yang sakti mandraguna. Ia orang seorang yang berwibawa. Ia seorang yang pandai memecahkan masalah. Ia juga seorang yang banyak Sunan Gunung JatiSunan Gunung Jati Maulana Al-Syarif Hidayatullah, lahir sekitar tahun 1448 M. ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abd Allah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Syarif Hidayatullah penyebar Islam terbesar di Jawa Barat. Dalam Babad Cirebon Naskah Klayan, banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Syarif Hidayatullah. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. Kesemuanya ini hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai Negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati. Dengan demikian, Syarif Hidayatullah adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan. Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mnedekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar putranya, Maulana Hasanuddin, Syarif Hidayatullah juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten. Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Syarif Hidayatullah wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon dulu Carbon. Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah Gunung Jati lahir sekitar 1450 dengan nama Syarif Hidayatullah. Ayahnya adalah Syarfi Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar. Jamaluddin Akbar adalah seorang muballig besar dari Gujarat, India. Bagi kamu sufi, Jamaluddin Akbar dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar. Dia merupakan keturunan Rasulullah SAW., melalui jalur keturunan Husain bin Ali. Mengenai ibundanya, bernama Nyai Rara silsilah Syarif Hidayatullah berdasarkan dari garis ayahnya, sebagai berikutKanjeng Nabi Muhammad Rosulullah SAW., Siti Fatimah istri Sayyidina Ali Sayid Khusein, Sayid Jaenal Abidin, Muhammad Bakir, Jafar Siddiq di Irak, Kasim Al-Kamil, Idris, Albakir, Akhmad, Baidillah, Muhammad, Alwi, Ali Gajam, Muhammad, Alwi di Mesir, Abdul Malik di India dari Hadramaut, Amir, Jalaluddin, Jamaluddin di Kamboja, Nurul Alim beristri putri Negara Mesir, Syarif Abdullah beristris Ratu Mas Rarasantang, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung ibu Syarif Hidayatullah ialah Nyai Rara Santang yang kemudian diubah menjadi Syarifah Muda’im. Ia merupakan putri Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi yang memperistri Nyai Subang Larang. Ia merupakan adik Kian Santang dan Pangeran Walangsungsang yang mempunyai gelar Cakrabuwana atau Cakrabumi yang dikenal dengan Mbah Kuwu Cirebon Girang yang berguru pada Syekh Datuk Kahfi, muballigh yang berasal dari Baghdad yang nama aslinya adalah Idhadi Mahdi bin Ahmad. Silsilah dari ibunya sebagai berikutPrabhu Panji Kuda Lelean Maharaja Adimulya, Prabhu Ciung Wanara, Prabhu Dewi Purbasari, Prabhu Lingga Hiang, Prabhu Wastu Kancana, Prabhu Susuk Tunggal, Prabhu Banyak Larang, Prabhu Banyak Wangi, Prabhu Mundingkawati, Prabhu Anggalarang, Prabhu Siliwangi, Ratu Mas Rarasantang atau Syarifah Muda’im, Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Sunan Gunung Jati begitu banyak, antara lain Syarif Hidayatullah dan Makhdum Gunung Jati, yang paling terkenal ialah dengan nama Falatehan atau Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah banyak yang menganggap mempunyai nama Fatahillah, padahal kenyataannya mereka beda orang. Mengenai Syarif Hidayatullah, ia merupakan salah satu cucu Raja Pajajaran yang ikut menyebarkan agama Islam di Jawa Barat, yang kemudian dikenal sebagai salah satu dari Sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Mengenai asal-usul Fatahillah, ialah pemuda yang dikirim Sultan Trenggana dari Pasai guna membantu Syarif Hidayatullah dalam memberantas Sunan Gunung Jati, karena ia meneruskan kiprah dari Syekh Datuk Kahfi dengan membangun Pesantren Gunung Jati. Lalu ia menikah dengan Nyi Pakungwati, putri dari Pangeran Cakrabuana yang tidak lain adalah pamannya sendiri yang bernama asli Pangeran Walangsungsang. Di tahun 1479, ia menyerahkan Negeri Caruban kepada Syarif Hidayatullah. Selain sebagai ponakannya sendiri, ia adalah menantunya sendiri. Roda-roda pemerintahan oleh Sunan Gunung Jati untuk menyebarkan agama Islam lebih luas lagi
bapak spiritual walisongo adalah